Setahun Hengkang, Pendiri WhatsApp Blak-blakan soal Perselisihan dengan Bos Facebook

Kompas.com - 30/09/2018, 19:12 WIB
Duet pendiri WhatsApp Jan Koum (kiri) dan Brian Acton Jim Goetz/ Sequoia CapitalDuet pendiri WhatsApp Jan Koum (kiri) dan Brian Acton

KOMPAS.com - Sebelum dua pendiri Instagram, Kevin Systrom dan Mike Krieger mengundurkan diri dari perusahaan Facebook Inc yang menaungi mereka, dua pendiri WhatsApp lebih dulu melakukan hal yang sama tahun lalu.

Diawali dengan Brian Acton yang hengkang setahun lalu dan disusul Jan Koum yang mundur bulan Mei 2018 di tengah skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Meski Acton telah lama meninggalkan WhatsApp, namun dirinya tidak pernah mengutarakan alasannya ke publik. Kepergian Acton kala itu tak lama setelah WhatsApp mulai memonetisasi layanan WhatsApp di akun-akun bisnis.

Hal ini menimbulkan dugaan bahwa alasan tersebut mengantarkan Acton untuk keluar dari WhatsApp. Untuk pertama kalinya, setelah tepat satu tahun ia meninggalkan WhatsApp, Acton muncul menyuarakan alasan sebenarnya, mengapa ia memutuskan untuk mundur.

Dalam wawancara khusus dengan Forbes, sebagaimana KompasTekno rangkum pada Minggu (30/9/2018), alasan terkuatnya untuk mundur adalah karena frustrasi melihat model bisnis yang dilakukan Facebook.

Lebih tepatnya, tekanan dari CEO Facebook, Mark Zuckerberg dan COO Facebook, Sheryl Sandberg-lah yang membuatnya yakin melepas WhatsApp yang diakuisisi Facebook sejak tahun 2014, dengan total nilai akuisisi 22 miliar dollar AS.

"Saya telah menjual data pribadi pengguna untuk keuntungan yang lebih besar. Saya telah membuat keputusan dan perjanjian. Dan saya hidup dengan itu setiap harinya," aku Acton.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Pendiri WhatsApp Mengaku Jual Data Pengguna ke Facebook

Tekanan untuk Memonetisasi WhatsApp

Acton resmi keluar dari WhatsApp bulan September tahun 2017. Saat skandal Cambridge Analytica, yang menyederai privasi pengguna Facebook mencuat, Acton mendukung gerakan #DeleteFacebook melaui akun Twitternya, yang notabene menjadi platform pesaing Facebook.

Ia pun membeberkan pertemuannya dengan Zuckerberg dan Sandberg suatu hari. Dua petinggi Facebook itu diceritakan Acton menuntut dirinya untuk melakukan monetisasi WhatsApp dengan menghadirkan iklan ke pengguna dan menyediakan fitur bisnis di aplikasi layanan pesan instan tersebut.

Acton mengisahkan jika Facebook juga mempersoalkan enkripsi yang melindungi isi pesan para pengguna WhatsApp. Facebook disebut menunjukkan gelagat tidak wajar, sejak pertama kali akuisisi. Niat Facebook untuk menargetkan iklan dikatakan sudah terendus sedari awal.

Dikatakan Acton, dalam merayu para pengiklan, Facebook mengklaim sangat mengenali para penggunanya, sehingga iklan akan sampai tepat sasaran. Hal itulah yang bertentangan dengan prinsip yang diagungkan Acton dan Koum.

Dua orang ini dikenal sangat fanatik untuk melindungi kerahasiaan privasi pengguna. Penolakan Acton dan Koum dalam memonetisasi WhatsApp sempat membuat Zuckerberg geram. Zuckerberg pun membuat dua pilihan monetisasi WhatsApp.

Baca juga: Pendiri WhatsApp Ajak Netizen untuk Hapus Facebook

Pertama, dengan menargetkan iklan melalui fitur WhatsApp Status dan kedua, membuat alat bisnis di mana pelaku bisnis bisa mengobrol dengan para pengguna. Untuk pilihan kedua, Facebook pun berniat untuk menjual alat tersebut jika sukses meluncur.

"Menargetkan iklan adalah hal yang tidak saya sukai," aku Acton.

Ia memegang motto sebagai pebisnis teknologi, yakni "tidak ada iklan, tidak ada game, dan tidak ada gimmick".

Motto ini jelas-jelas kontradiktif dengan model bisnis yang diterapkan Facebook, yang meraup 98 persen keuntungan dari iklan. Acton pun mengusulkan satu model bisnis sederhana kepada Zuckerberg dan Sandberg.

Ia mengusulkan untuk menarik biaya setelah pengguna mengirimkan pesan via WhatsApp secara gratis dalam jumlah tertentu.

"Coba cara itu sekali, lalu terapkan ke setiap negara. Anda tidak perlu memaksakan penjualan dengan cara yang canggih. Itu adalah bisnis yang sederhana," ungkap Acton menceritakan kembali ide yang pernah diutarakan ke Sandberg dan Zuckerberg.

Baca juga: Ditinggal Sang Pendiri, WhatsApp Bakal Dipenuhi Iklan?

Namun ide ini ditolak mentah-mentah oleh Sandberg. Sandberg berpendapat bahwa ide itu tidak akan mendongkrak pendapatan. Tapi Acton punya pandangan lain.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.