Kompas.com - 26/10/2018, 08:12 WIB
Ponsel Andromax B (kiri) dan Andromax L yang dipamerkan dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (25/1/2017). Oik Yusuf/Kompas.comPonsel Andromax B (kiri) dan Andromax L yang dipamerkan dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (25/1/2017).
Penulis Oik Yusuf
|

PALEMBANG, KOMPAS.com - September lalu, Deputy CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim memastikan nasib Andromax. Jajaran handset yang telah menemani Smartfren sepanjang kiprahnya sebagai operator seluler CDMA hingga 4G LTE itu akan dihentikan pada pertengahan 2019 mendatang.

Penyetopan Andromax bukan tanpa alasan. Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo mengatakan bahwa keputusan untuk menghentikan Andromax diambil lantaran Smartfren memandang tugasnya sudah “selesai”.

Pendukung jaringan

Munir bercerita, Andromax dulu tercetus pada 2010, ketika Smartfren menjadi operator CDMA terbesar di Indonesia setelah merger Smart Telecom dengan Mobile-8.

Ketika itu, tak ada banyak handset di pasaran yang mendukung teknologi jaringan CDMA Smartfren sehingga sang operator merasa perlu langkah tambahan untuk mendukung pertumbuhan pelanggan di jaringannya.

“Untuk sosialisasi CDMA dengan lebih cepat, maka Smartfren masuk ke ranah handset, lewat kemitraan strategis (dengan para rekanan pemanufaktur perangkat,” ujar Munir ketika ditemui KompasTekno di sela rangkaian acara 4G Plus Network Experience Smartfren di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (25/10/2018).

Baca juga: Setop Bisnis Ponsel Andromax, Smartfren Fokus Bangun Jaringan 4G

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kehadiran Andromax ternyata efektif menaikkan pangsa pasar dan pelanggan Smartfren. Hingga kemudian, pada 2015, Smartfren memutuskan untuk hijrah dari teknologi CDMA yang pengembangannya sudah mandek, ke 4G LTE (GSM),

Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo.KOMPAS.com/Oik Yusuf Araya Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo.
Saat hendak beralih menuju 4G LTE itu pun, di pasaran belum banyak tersedia handset 4G LTE, terutama yang mendukung frekuensi 4G TDD Smartfren di pita 850 MHz dan 2.300 MHz.

“Jasa” Andromax kembali diperlukan, supaya memudahkan pelanggan CDMA bermigrasi ke 4G LTE, sekaligus mencegah mereka beralih ke operator lain.

“Handset yang support band 4G yang sesuai dengan Smartfren ketika itu terbatas. Kami memang unik, pakai band 5 (850 MHz) dan 40 (2.300 MHz). Operator lain kebanyakan band 1 (2.100 MHz) dan 3 (1.800 MHz), Mau tak mau, Smartfren tetap mengeluarkan seri Andromax untuk mendorong perkembangan pelanggan 4G LTE,” imbuh Munir.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.