Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertimbangan Smartfren Sebelum Adopsi 5G

Kompas.com - 26/10/2018, 12:55 WIB
Penulis Oik Yusuf
|

PALEMBANG, KOMPAS.com - Operator seluler Smartfren menggelar jaringan 4G di lebih dari 200 kota di seluruh daerah operasionalnya di Indonesia. Jaringan 4G Plus ikut digeber di kota-kota besar utama dan menjanjikan kecepatan downlink hingga 198 Mbps dalam kondisi ideal.

Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo mengatakan, teknologi jaringan 4G Plus sebenarnya sama dengan 4G, namun fitur-fiturnya lebih lengkap.

Kelengkapan fitur seperti Carrier Agregation, small cell, MIMO, QAM, beam forming, dan full duplex ini sengaja disiapkan untuk menyambut kedatangan jaringan seluler generasi ke-5 alias 5G.

Meski demikian, Munir mengatakan hal itu tidak serta merta berarti teknologi 5G akan langsung diadopsi oleh Smartfren, karena masih banyak faktor penentu yang kesiapannya masih belum jelas.

Misalnya saja, terkait backend jaringan yang mesti mampu menyokong kecepatan transfer data sangat besar, agar bisa memberikan lompatan berarti ke 5G.

Baca juga: Internet 5G Digelar 2019, Smartphone Baru Siap 3 Tahun Kemudian

“Contohnya, kecepatan 198 Mbps dari 4G Plus Smartfren tadi hanya sepersepuluh tuntutan kecepatan 5G yang berada di kisaran 1 Gbps hingga 10 Gbps atau lebih,” ujar Munir di sela rangkaian acara 4G Plus Network Experience Smartfren di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (24/10/2018).

Menurut Munir, berbeda dari negara-negara maju yang sudah lebih siap untuk menggelar 4G, ketersediaan backend untuk mendukung internet berkecepatan tinggi di Indonesia saat ini masih sangat kurang.

Dia memperkirakan masih butuh waktu beberapa tahun sebelum 5G bisa realistis diterapkan di Tanah Air.

“Prediksi saya, Indonesia baru akan mulai mengadopsi 5G pada 2020. Itu pun belum secara meluas karena ketersediaannya mesti didukung infrastruktur memadai. Backend mau tak mau harus mengikuti,” kata Munir.

Di luar backend, Munir mengatakan perangkat infrasuktur Smartfren sudah lebih siap untuk mendukung 5G karena fitur-fitur yang diperlukan sebagian sudah ada di jaringan 4G Plus besutan sang operator.

Namun masih perlu dilihat kembali apakah kebutuhan jaringan 5G nantinya akan bisa disokong oleh peralatan yang sudah ada.

Dia mencontohkan penggunaan band frekuensi 5G di Indonesia yang masih belum jelas ketentuannya. Apabila nanti masih mirip dengan jaringan 4G Plus, maka Smartfren -misalnya- mungkin tak perlu mengganti radio pemancar di BTS.

“Tapi kalau perbedaannya terlalu jauh, adjustment tetap perlu,” imbuh Munir.


Chief Brand Officer Smartfren, Roberto Saputra.KOMPAS.com/Oik Yusuf Araya Chief Brand Officer Smartfren, Roberto Saputra.
The next frontier

Dari sisi konsumen, seperti teknologi-teknologi jaringan 3G dan 4G sebelumnya, ekosistem 5G perlu pula didukung oleh ketersediaan handset atau perangkat lain yang mendukung pemakaian jaringan seluler generasi ke-5 tersebut.

Sementara, hingga saat ini belum satu pun handset 5G yang sudah tersedia di pasaran, meski sejumlah vendor seperti Huawei sudah memberi ancang-ancang bakal melepas smartphone dengan dukungan 5G pada 2019 mendatang.

Teknologi 5G memiliki banyak kelebihan dibandingkan 4G, misalnya latency yang sangat kecil sehingga membuka kemungkinan skenario pemakaian machine-to-machine (M2M) untuk perangkat-perangkat Internet of Things (IoT) dan otomatisasi seperti kendaraan swakemudi.

Chief Brand Officer Smartfren Roberto Saputra mengatakan teknologi 5G nanti akan membuka “the next frontier” alias lahan bisnis baru bagi para pelaku industri telekomunikasi. Namun, lagi-lagi ini kembali lagi pada use case apa yang akan mengemuka.

Misalnya, siapa yang akan menggunakan mobil swakemudi nanti dan apa peruntukannya?

“Pasar 5G ini nanti mungkin akan lebih dulu mengarah ke M2M dan automation. Tapi itu nanti karena kita harus lihat dulu. Kalau untuk retail (konsumen umum, handset), 4G sudah menyediakan coverage yang bagus dan speed cepat. Untuk sekarang kami fokus mengembangkan jaringan 4G kami,” ujar Roberto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.