Stop Sebut Durian sebagai Penyebab Jatuhnya Pesawat Mandala di Medan - Kompas.com
kolom

Stop Sebut Durian sebagai Penyebab Jatuhnya Pesawat Mandala di Medan

Kompas.com - 07/11/2018, 11:11 WIB
Kecelakaan pesawat Mandala Airlines PK-RIM penerbangan RI91 di Medan, 5 September 2005.Wikimedia Kecelakaan pesawat Mandala Airlines PK-RIM penerbangan RI91 di Medan, 5 September 2005.

Jika Anda pernah mendengar kabar bahwa kecelakaan pesawat Mandala Airlines di bandara Polonia, Medan pada 2005 lalu disebabkan oleh overload kargo durian yang diangkut pesawat, sehingga menyebabkan gagal takeoff, saya sarankan Anda berhenti mempercayainya.

Pasalnya, hasil akhir penyelidikan KNKT tidak menyebut kargo pesawat sebagai faktor jatuhnya Mandala penerbangan RI91 itu.

Isu durian sebagai penyebab jatuhnya peswat Mandala RI91 di Polonia, Medan kembali muncul setelah postingan Facebook seorang penumpang pesawat Sriwijaya Air menjadi viral. Berawal dari komplain soal bau durian yang menyengat di kabin pesawat.

Baca juga: Viral Penumpang Menolak Terbang karena Pesawat Angkut Durian

Usut punya usut, bau tersebut berasal dari beberapa karung durian yang dimasukkan ke dalam kargo perut pesawat. Bau durian yang bagi sebagian orang terasa tidak enak dan membuat tidak nyaman, memicu komplain ke awak pesawat.

Dalam isi komplain yang dituliskan kembali lewat Facebook itu, dikatakan bahwa pesawat Mandala gagal takeoff di Medan (merujuk pada peristiwa RI91), akibat kargo durian. Lebih lengkapnya saya kutip sebagai berikut:

"Mas...ini bau durennya parah bgt, 1 jam lho kita nyium bau beginian nanti di atas. Trus km tau gak kecelakaan peswat mandala yg gagal take off di medan???"

Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air, Retri Maya sendiri sudah menjelaskan bahwa mengangkut durian dalam penerbangan itu merupakan hal yang biasa dilakukan oleh setiap maskapai, sejauh dikemas dengan baik dan masuk ke dalam kargo sesuai dengan SOP.

Masalahnya di sini adalah cara pengemasan (packaging) kargo durian yang mungkin tidak sesuai prosedur dalam menangani barang-barang yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan akibat bau.

Soal jumlah berat durian yang mencapai 3 ton itu juga misleading. Durian yang diangkut bukan seberat 3 ton, melainkan jumlah total kargo yang diangkut pesawat adalah 3 ton, termasuk sejumlah karung durian yang bikin heboh itu.

Kembali ke soal durian dan kecelakaan Mandala Ri91. Dari petikan komplain yang disampaikan penumpang di atas, kini jelas terlihat bahwa stigma durian sebagai penyebab jatuhnya Mandala RI91 masih lekat di pemikiran banyak orang.

Jadi lewat tulisan Kolom ini, izinkan saya meluruskan stigma durian dan kecelakaan Mandala RI91 tersebut.

Sebelumnya, kita lihat ke belakang peristiwa Mandala RI91 itu seperti apa. Mandala RI91 adalah penerbangan berjadwal rute Medan-Jakarta yang pada 5 September 2005, gagal takeoff di bandara Polonia.

Setelah pesawat Boeing 737-200 registrasi PK-RIM melaju di runway, roda pesawat sempat meninggalkan aspal runway sejenak, kemudian stall (kehilangan daya angkat) jatuh kembali ke landasan dan terus melaju hingga keluar ujung landasan (overrun), menabrak belasan rumah di sepanjang jalur ujung luar runway.

Dari 112 penumpang dan 5 kru yang diangkut saat itu, 100-an di antaranya meninggal dunia dan 17 orang selamat, walau belakangan beberapa di antaranya dilaporkan meninggal akibat luka-luka.

Memang benar ditemukan kargo durian di puing reruntuhan PK-RIM, namun hasil akhir penyelidikan KNKT menyebut, kargo dan CG (center of gravity) pesawat, tidak turut andil sebagai faktor yang berkontribusi kepada gagal takeoff-nya RI91.

Menurut KNKT, penyebab utama dari kecelakaan RI91 adalah flaps dan slats pesawat yang tidak menjulur keluar, dan kru (pilot dan kopilot) tidak mengetahuinya akibat kerusakan teknis yang juga tidak disadari oleh kru pesawat.

Flaps adalah sirip tambahan di sayap pesawat. Sementara slats berada di pinggiran depan sayap. Jika Anda duduk di kursi dekat jendela, perhatikan setelah pesawat didorong mundur dan mesin menyala, pinggiran sayap sebelah belakang akan menjulur sedikit. Itulah flaps pesawat. Sementara pinggiran ujung depan sayap juga akan terlihat maju. Itulah komponen slats.

Control surface B737, menunjukkan posisi Flaps dan Slats di sayap pesawat.Boeing Control surface B737, menunjukkan posisi Flaps dan Slats di sayap pesawat.
Flaps dan slats dibutuhkan untuk takeoff dan landing. Fungsinya? Menambah luas penampang sayap pesawat, dan menambah daya angkat dengan mengubah alur udara yang melewati di sekelilingnya.

Besaran flaps yang dipasang bisa berbeda-beda. Saat takeoff, hanya sedikit komponen flaps yang akan menjulur. Sementara saat landing, semakin banyak/panjang komponen flaps yang dijulurkan.

Karena kru Mandala PK-RIM penerbangan RI91 tidak memasang flaps sebelum takeoff, maka pesawat kesulitan untuk mengudara. Bisa saja pesawat takeoff tanpa flaps, namun butuh takeoff roll distance yang lebih panjang, sehingga butuh runway yang panjang pula.

Nah, karena butuh runway yang panjang untuk takeoff karena tanpa flaps, sementara panjang runway bandara Polonia tidak mencukupi untuk konfigurasi seperti itu, terjadilah overrun.

Laporan akhir lengkap hasil investigasi KNKT tentang kecelakaan Mandala Airlines penerbangan RI91 di Polonia, Medan bisa diunduh di website resmi KNKT di tautan berikut ini.

Mungkin jika postingan Facebook komplain penumpang Sriwijaya Air itu tidak viral, stigma durian dan kecelakaan Mandala RI91 di Medan yang ternyata masih melekat di benak masyarakat itu tidak akan diketahui.

Kini, setelah Anda tahu bahwa durian bukan penyebab jatuhnya Mandala RI91 di Medan, edukasi teman atau saudara Anda agar stigma ini bisa terhapus di benak masyarakat.



Close Ads X