Menjajal Ponsel Teratas Huawei, Mate 20 Pro

Kompas.com - 19/12/2018, 13:07 WIB
Tampak depan ponsel Huawei Mate 20 Pro. Ponsel ini memiliki layar OLED dengan resolusi Quad HD+.KompasTekno/Yudha Pratomo Tampak depan ponsel Huawei Mate 20 Pro. Ponsel ini memiliki layar OLED dengan resolusi Quad HD+.

 KOMPAS.com - Oktober lalu, Huawei resmi memperkenalkan dua ponsel flagship Mate 20 Pro yang duduk di urutan teratas hierarki smartphone besutannya. Mate 20 Pro pun dibekali serangkaian fitur tercanggih dari sang pabrikan. 

Sektor dapur pacu, misalnya, diperkuat System-on-Chip (SoC) Kirin 980 yang dibuat dengan proses fabrikasi 7nm.

Sementara untuk keperluan fotografi, Huawei menyematkan tiga kamera hasil kerjasama dengan pabrikan kamera Jerman, Leica.

Baca juga: Huawei Rilis Kirin 980, Chip 7nm Komersil Pertama

KompasTekno berkesempatan menjajal Huawei Mate 20 Pro sebelum peluncurannya di Indonesia. Kami melakukan beberapa pengujian, khususnya untuk sektor kamera.

Nah, seperti apa penampilan, kinerja, dan hasil jepretan Mate 20 Pro? Ikuti hasil penelusuran selengkapnya berikut ini.

Poni lebar, punggung mengilap

Sebagai sebuah ponsel flagship, tak mengherankan jika Huawei Mate 20 Pro memiliki desain premium. Pada bagian depan, Anda akan disambut oleh layar AMOLED selebar 6,39 inci (3.120 x 1.440 piksel, aspec ratio 19,5:9) berbalut kaca pelindung Gorilla Glass.

Angka rasio 19,5:9 ini membuat layar Mate 20 Pro terlihat memanjang ke bawah. Bagian layar di sisi kanan dan kirinya membulat, mengingatkan pada layar Edge ala Samsung Galaxy S.

Bingkai layar Huawei Mate 20 Pro juga terlihat tipis sehingga panel display tampak nyaris menutupi seluruh bagian depan dengan rasio screen-to-body mencapai 87,9 persen.

Huawei Mate 20 Pro memiliki poni di bagian atas layar. Poni ini membungkus kamera selfie sebesar 24 megapiksel. KompasTekno/Yudha Pratomo Huawei Mate 20 Pro memiliki poni di bagian atas layar. Poni ini membungkus kamera selfie sebesar 24 megapiksel.

Di bagian atas layar terdapat sebuah notch alias "poni" dengan bentuk lebar dan  mewadahi kamera depan 24 megapiksel f/2.0.

Bentuk poni Mate 20 Pro lebih lebar dibandingkan saudaranya, P20 Pro,  karena poni Mate 20 Pro turut memuat sensor khusus untuk keperluan 3D face recognition.

Seperti P20 Pro, jika Anda tak suka dengan adanya notch ini, Anda bisa menyembunyikannya pada menu pengaturan ponsel.

Beralih ke bagian belakang. Huawei Mate 20 Pro memiliki bodi berupa kaca mengilap. Dengan bodi berbalut kaca ini, maka Anda tak perlu heran jika sidik jari Anda dengan mudah akan membekas.

Kendati demikian sidik jari yang menempel masih mudah untuk dibersihkan dan cenderung tak terlalu terlihat karena ada semacam tekstur halus, berbeda dari punggung P20 Pro yang benar-benar licin.

Material kaca yang membalut bodi Huawei Mate 20 Pro membuat bagian belakang mudah kotor dan meninggalkan sidik jari. KompasTekno/Yudha Pratomo Material kaca yang membalut bodi Huawei Mate 20 Pro membuat bagian belakang mudah kotor dan meninggalkan sidik jari.

Model Mate 20 Pro di tangan KompasTekno kebetulan berwarna Midnight Blue. Huawei sendiri memproduksi Mate 20 Pro dengan beberapa varian warna yakni Emerald Green, Midnight Blue, Black, dan Twilight.

Bagian yang paling mencolok di bagian belakang ponsel ini adalah modul kamera berbentuk persegi, dengan tulisan "Leica" terpampang di atasnya.

Ketiga kameraHuawei Mate 20 Pro tersusun di tiga pojokan modul kotak ini. Sementara satu pojok sisanya di kiri atas diisi oleh lampu kilat LED.

Baca juga: Huawei Mate 20 X Resmi Meluncur, Ponsel Gaming Berlayar 7 Inci

Pada bagian belakang ini tidak terlihat adanya pemindai sidik jari. Pasalnya Huawei menyematkan pemindai sidik jari di dalam layar ponsel.

Pemindai sidik jari Huawei Mate 20 berada di tengah layar, dengan posisi agak di bawah supaya gampang dijangkau jari. Saat dalam keadaan terkunci, layar ponsel akan menampilkan ikon fingerprint sebagai penanda lokasi di mana pengguna harus meletakkan jari untuk dipindai (foto kanan).KOMPAS.com/ GITO YUDHA PRATOMO Pemindai sidik jari Huawei Mate 20 berada di tengah layar, dengan posisi agak di bawah supaya gampang dijangkau jari. Saat dalam keadaan terkunci, layar ponsel akan menampilkan ikon fingerprint sebagai penanda lokasi di mana pengguna harus meletakkan jari untuk dipindai (foto kanan).

Saat kami coba, pemindai ini bekerja cukup cepat, tapi agak sulit melakukan pengenalan sidik jari. Kadang perlu meletakkan jari beberapa kali sebelum ponsel bisa mengenali.

Perbedaannya jelas terasa ketika dibandingkan dengan P20 Pro yang masih memakai fingerprint scanner konvensional tapi kerjanya lebih gegas.

Kinerja mumpuni

Huawei Mate 20 Pro dipersenjatai dengan Kirin 980. Chip yang dibuat dengan fabrikasi 7nm ini diklaim mampu meningkatkan kinerja sampai 20 persen lebih tinggi dari Kirin 970 pendahulunya, sementara konsumsi dayanya justru lebih irit 40 persen.

Selama KompasTekno mencoba ponsel ini, memang tak terjadi stuttering maupun hambatan lain saat digunakan untuk menangani proses yang berat. Kami mencobanya lewat memainkan game PUBG Mobile dan streaming video. Keduanya berjalan lancar.

Selain itu, proses multitasking pun tak ada hambatan. Hal ini karena Huawei Mate 20 Pro yang kami uji disokong oleh RAM 6 GB dengan penyimpanan 128 GB.

KompasTekno coba menjalankan dua benchmark populer AnTuTu dan Geekbench untuk mengukur kinerja Mate 20 Pro.

Skor benchmark AnTuTu (kiri) dan Geekbench untuk Huawei Mate 20 Pro.KOMPAS.com/ GITO YUDHA PRATOMO Skor benchmark AnTuTu (kiri) dan Geekbench untuk Huawei Mate 20 Pro.

Hasilnya, Mate 20 Pro sanggup menelurkan skor di kisaran 260.000 poin di AnTuTu, serta nilai single-core 3.329 poin dan multi-core 9.740 poin di Geek Bench. Catatan tersebut termasuk paling tinggi di antara ponsel flagship saat ini

Untuk sistem operasi, Huawei Mate 20 Pro sudah menjalankan Android 9.0 Pie yang dibalut dengan EMUI 9. Dengan manajemen RAM yang lebih baik, sistem operasi ini membuat performa Huawei Mate 20 Pro terasa lebih mulus dan ringan.

Tiga kamera Leica

Jika dihitung keseluruhan, ada empat kamera tersemat pada Huawei Mate 20 Pro. Tiga kamera berada di bagian punggung dan satu kamera selfie di bagian depan.

Masing-masing kamera utama memiliki sensor dan lensa dengan sudut pandang (focal length) berbeda, yakni ultra wide (20 megapiksel, lensa f/2.2 setara 16mm full-frame), wide (40 megapiksel, lensa f/1.8 setara 27mm) dan telephoto (8 megapiksel, lensa f/2.4 setara 80mm).

Mate 20 Pro pun diklaim memiliki rentang "zoom optis" hingga 5x dari 16mm ke 80mm. Meski sebenarnya secara teknis bukan lensa zoom yang tertanam, melainkan tiga lensa fixed dengan focal length berbeda.

Ketiga kamera utama inilah yang menjadi nilai jual utama dari Huawei Mate 20 Pro. Adapun kamera depannya memiliki resolusi 24 megapiksel dengan lensa berbukaan f/2.0.

Hasil foto Huawei Mate 20 Pro dengan menggunakan lensa ultra-wide. KompasTekno/Yudha Pratomo Hasil foto Huawei Mate 20 Pro dengan menggunakan lensa ultra-wide.

Ada satu hal yang membedakan antara Mate 20 Pro dengan P20 Pro soal kamera. Pada seri Mate 20 Pro ini Huawei tidak memasang kamera monokrom, tapi menggantinya dengan kamera ultra wide.

Kamera belakang ponsel ini membawa banyak fitur. Misalnya night mode, portrait, time lapse, slow motion, 3D panorama, dan lain-lain.

Selain itu kamera ini juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi objek foto dan melakukan penyesuaian parameter secara otomatis.

Namun selama beberapa kali mencoba, AI ini masih melakukan sedikit kesalahan. Ketika KompasTekno mencoba memotret makanan, ada kalanya AI malah mendeteksi objek tersebut sebagai bunga.

Baca juga: Huawei Mate 20 Lite Meluncur dengan 4 Kamera

Saat KompasTekno mencoba memotret dalam kondisi minim cahaya, ponsel ini mampu membuat hasil foto menjadi lebih terang dengan minim noise.

Kamera ultra-wide milik Huawei Mate 20 Pro ini juga mampu mengambil gambar dengan cakupan yang lebih luas.

Kemudian yang paling menarik saat kami coba adalah lensa telephoto yang merupakan satu-satunya kamera Mate 20 Pro yng dibekali dengan OIS.

Kami mencoba lensa telephoto ini dengan memotret objek dari kejauhan. Hasilnya, objek yang dipotret dari jauh bisa terlihat dengan jelas dan lebih besar di frame tanpa harus benar-benar berjalan lebih dekat.

Meski tak mengusung lensa monokrom, Huawei Mate 20 Pro masih memiliki fitur pengambilan gambar hitam-putih. KompasTekno/Yudha Pratomo Meski tak mengusung lensa monokrom, Huawei Mate 20 Pro masih memiliki fitur pengambilan gambar hitam-putih.
Adanya OIS membuat gambar yang diambil lewat lensa telefoto ini jadi lebih stabil. Biasanya ketika ponsel digunakan untuk mengambil gambar dari jarak jauh, sedikit guncangan saja akan membuat gambar menjadi blur. Namun tidak pada Huawei Mate 20 Pro ini.

Cukup mengesankan

Secara keseluruhan ponsel Huawei Mate 20 Pro ini cukup mengesankan, khususnya dari sektor kamera.

Meski tak ada kamera monokrom seperti pada P20 Pro, ponsel ini masih bisa menggunakan fitur hitam-putih yang tersedia pada menu pengaturan kamera. Hasilnya pun tidak mengecewakan.

Sementara kamera ultra-wide yang dibenamkan pada Mate 20 Pro sangat membantu untuk mengambil gambar dengan cakupan yang lebih luas. Kamera ini sangat berguna untuk memotret pemandangan atau objek lain.

Efek bokeh yang dihasilkan pada mode portrait pun sangat halus. Hampir tidak ada kesalahan dalam mendeteksi objek dan kemudian membuat latar belakang gambarnya menjadi buram.

Akhir kata, Mate 20 Pro memang layak disebut sebagai salah satu ponsel Android terbaik yang ada saat ini. Mampukah ia mendongkrak pamor Huawei di pasaran Indonesia setelah resmi meluncur? Kita tunggu saja sepak terjangnya nanti.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X