20 Skandal Facebook Sepanjang Tahun 2018

Kompas.com - 26/12/2018, 09:29 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica. Brendan Smialowski / AFPCEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

7. Tudingan menyebar data pengguna ke vendor perangkat (Juni)

Setelah kebocoran data ke pihak ketiga Cambridge Analytica, Facebook juga dilaporkan membagikan data pribadi pengguna ke sejumlah vendor ponsel dan tablet.

Laporan New York Times menyebut setidaknya ada 60 vendor smartphone dan tablet yang berkongsi dengan Facebook terkait data pengguna. Beberapa vendor yang disebut adalah Apple, Amazon, Microsfot, dan Blackberry.

Baca juga: Facebook Beri Akses Data Pengguna ke 60 Vendor Smartphone

Kerja sama itu memungkinkan fitur Facebook terintegrasi langsung dengan perangkat atau "device-integrated API" buatan 60 vendor gadget. Data yang dikumpulkan di antaranya tentang agama, orientasi politik, serta agenda yang akan dihadiri pengguna.

Laporan itu menyebut bahwa akses data ini bisa dilakukan tanpa memerlukan ijin dari pengguna dan tanpa mereka sadari.

8. Akses aplikasi pihak ketiga terhadap data pengguna masih terbuka (Juli)

Setelah memberi kasaksian kepada anggota kongres bulan April, Facebook kembali menyampaikan keterangan dalam sebuah laporan setebal 700 halaman kepada House of Energy and Commerce Committee.

Facebook mengaku beberapa aplikasi masih memiliki akses terhadap data pengguna selama enam bulan terakhir.

Padahal, sebelumnya Facebook memastikan telah mengubah kebijakannya dengan menutup akses aplikasi ketiga ke data teman pengguna pada tahun 2015.

Beberapa aplikasi yang disebut adalah aplikasi kencan online Hinge dan layanan musik streaming seperti Spostify. Namun yang paling mencengangkan adalah aplikasi besutan perusahaan besar Rusia, Mail.ru.

Masuknya Mail.ru membuat ketar-ketir Washington, sebab investor utama perusahaan tersebut adalah Alisher Usmanov, seorang pebisnis yang dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

9. Akun palsu terkait Rusia (Juli)

Facebook menutup 32 akun dan laman yang terkait dengan kelompok propaganda IRA. Jejaring raksasa tersebut bekerja sama dengan penegak hukum terkait untuk menentukan asal kampanye yang disebar IRA.

Kampanye yang disebar disebut serupa dengan kampanye propaganda saat pemilu AS 2016.

10. Saham anjlok (Juli)

Setelah kasus Cambridge Analytica terkuak, para investor pun ketar-ketir. Saham Facebook sempat anjlok sejak 16 Maret 2018 dengan valuasi yang lenyap 80 miliar dollar AS.

Namun berkat kelihaian Zuckerberg yang berhasil menenangkan para investor, saham Facebook kembali naik 4,2 persen pada minggu pertama bulan April.

Zuckerberg mengatakan kepada investor bahwa skandal kebocoroan data tidak memengaruhi jumlah pengguna Facebook.

Akan tetapi, saham Facebook kembali merosot 20 persen pada 25 Juli karena  pertumbuhan pengguna melambat. Facebook memprediksi pertumbuhan pendapatan akan tetap pelan hingga akhir tahun 2019.

11. Pemblokiran akun dan laman biang hoaks Alex Jones (Agustus)

Pertengaan tahun 2108, Facebook mengikuti jejak Apple yang lebih dulu menarik podcast Alex Jones, seorang yang dikenal sebagai biang hoaks dan kerap memunculkan teori konspirasi kontroversial.

Facebook menghapus empat laman yang berafiliasi dengan Alex Jones yang dianggap melanggar menyebar ujaran kebencian.

Baca juga: Facebook, YouTube, dan Apple Kompak Blokir Alex Jones, Siapa Dia?

Aksi ini kemudian diikuti platform lain seperti YouTube dan pada akhirnya Twitter, yang sempat enggan ikut menutup akun Jones.

Sayangnya, aksi penutupan akun Alex Jones ramai-ramai oleh perusahaan Silicon Valley ini memicu protes, terutama dari pendukung sayap kanan yang konservatif. Sebab mereka adalah para pendukung Alex Jones yang juga diketahui dekat dengan Presiden Donald Trump.

12. Penutupan akun dan laman "aspal" Iran (Agustus)

Facebook juga menghapus jaringan dari akun dan laman asli tapi palsu (aspal), yang terkait ke media pemerintah Iran. Aktivitas dunia maya kelompok tersebut kepergok oleh firma keamanan siber FirmEye.

Pada bulan Oktober, Facebook kembali menemukan 82 akun, laman, dan group yang terkait dengan Iran namun menyamar sebagai warga negara AS atau Inggris. Polanya hampir sama dengan yang pernah dilakukan IRA sebelumnya.

13. Intoleransi di lingkup internal (Agustus)

Sebuah laporan dari New York Time menyebut bahwa sebuah memo beredar di kalangan internal manjaemen Facebook. Memo tersebut berjudul "Kami Memiliki Masalah dengan Keberagaman Politik".

Salah satu teknisi senior di Facebook, Brian Amerige mengunggah sebuah tulisan.

"Kami (Facebook) adalah sebuah perusahaan monokultur secara politik yang intoleran terhadap perbedaan pandangan," tulisnya.

Lebih lanjut ia menulis, "Kami mengklaim menyambut semua perspektif, tapi cepat untuk menyerang - kerap secara bergerombol - siapapun yang mengungkapkan pandangan yang dianggap berseberangan dengan ideologi kiri".

Sejak unggahan itu ramai diperbincangkan, lebih dari 100 pegawai Facebook bergabung dengan Amerige untuk membuat grup online bernama "Fb'ers for Political Diversity".

14. Bias gender dalam iklan (September)

American Civil Liberties Union, sebuah lembaga swadaya yang berorientasi pada hak kebebasan individu mengajukan gugatan ke Komisi Kesetaraan Kesempatan Pekerja. Laporan yang diajukan terkait dengan salah satu alat Facebook yang digunakam menargetkan iklan.

Mereka menganggap alat tersebut bias gender. Sebab para pengusaha bisa beriklan dengan menentukan target sesuai jenis kelamin.

Facebook pernah mengalami masalah serupa sebelumnya yang mengijinkan pengiklan mengecualikan etnis tertentu. Pada bulan Agustus, pengadilan mengabulkan gugatan terhadap praktik Facebook ini.

15. Pendiri Instagram mundur (September)

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Wired
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X