Video Porno Palsu "Deepfake" Mengancam Perempuan di Internet

Kompas.com - 04/01/2019, 09:41 WIB
Ilustrasi pornografiThinkstock/AndreyPopov Ilustrasi pornografi

KOMPAS.com —  Perkembangan teknologi tak pernah lepas dari mudarat meski mulanya selalu diciptakan untuk mendatangkan manfaat.

Sama halnya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sejatinya dirancang untuk mempermudah kehidupan sehari-hari di berbagai sektor. Belakangan, AI dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengembangkan video palsu atau  “deepfake”.

Istilah yang merupakan gabungan dari proses AI deep learning dan fake alias palsu ini mengacu pada wajah seseorang yang "ditempel" ke tubuh orang lain ala modifikasi foto, tapi diterapkan pada video. 

Hasilnya bisa sangat halus dan realistis dengan penggunaan AI, termasuk segala macam ekspresi wajah dan pencahayaan, sehingga tampak meyakinkan.

Baca juga: Rekaman Suara pun Bakal Bisa di-"Photoshop"

Dalam konteks pornografi, oknum pembuat video deepfake mencaplok wajah perempuan di internet, lalu memasangnya pada video yang memperlihatkan badan orang lain tanpa busana.

Hal itu dilakukan sewenang-wenang, tanpa meminta izin ke si empunya wajah. Alhasil, korban tampak seakan-akan memainkan aksi porno yang tak pernah ia lakukan sama sekali.

Sejumlah selebriti Hollywood menjadi sasaran video deepfake, tapi video palsu ini bisa menyasar siapa saja.

Proses pembuatan deepfake bisa disimak dalam penjelasan TheVerge melalui video pendek di akun Twitter-nya, sebagai berikut.

Jadi, deepfake tak cuma bisa memanipulasi video porno, tetapi juga wawancara tokoh politik dan hal-hal lainnya yang mendatangkan kontroversi.

Kekerasan seksual terhadap perempuandi era AI

Kembali lagi dalam konteks industri porno, seorang perempuan yang tak mau identitasnya diumbar mengaku telah menjadi korban. Ia tanpa sengaja melihat sebuah video yang mencantumkan wajahnya, tetapi bukan badannya.

Di video tersebut, ia berbalut baju pink yang memamerkan bagian bahu, berbaring di atas kasur, dan melempar senyum menggoda. Hal yang paling ditakutkan sang korban adalah ketika rekan kerja, keluarga, kerabat, dan pasangannya melihat video tersebut.

“Saya merasa dizalimi. Saya ingin merobek semua hal di internet, tetapi saya tahu itu tak mungkin,” kata sang korban, seorang perempuan berusia 40 tahun, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Washington Post, Kamis (3/1/2018).

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X