Bos Apple Akui Penjualan iPhone Loyo, Saham Anjlok

Kompas.com - 04/01/2019, 13:24 WIB
CEO Apple, Tim Cook, di atas panggung peluncuran di Steve Jobs Theatre, Cupertino, California, AS. TheVergeCEO Apple, Tim Cook, di atas panggung peluncuran di Steve Jobs Theatre, Cupertino, California, AS.

KOMPAS.com - Pada Maret 2018, Apple berhasil memecahkan rekor sebagai perusahaan teknologi pertama yang bernilai 1 triliun dollar AS, atau setara Rp 14.500 triliun. Rupanya pencapaian itu tak bertahan lama.

Saham Apple anjlok 8,5 persen pada pembukaan jam dagang, Kamis (3/1/2019). Secara keseluruhan, lemahnya posisi Apple sejak akhir 2018 hingga kini membuat valuasinya anjlok sebesar 64 miliar dollar AS atau Rp 918 triliun.

Pasar global memang sedang mengalami turbulensi akibat ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat dan China. CEO Apple, Tim Cook telah mengakui bahwa penjualan iPhone pada 2018 memang lesu.

Ia pun memperingatkan investor bahwa hal ini adalah dampak pada melemahnya penjualan iPhone di Negeri Tirai Bambu.

“Perang dagang antara Amerika Serikat dan China menambah tekanan pada ekonomi masing-masing negara,” kata dia.

Baca juga: Kalahkan Apple, Microsoft Jadi Perusahaan Terkaya di Dunia

“Kami melihat trafik di toko ritel, toko mitra, dan laporan dari industri smartphone, buruk selama November. Saya belum melihat angka Desember, tetapi pasti tak akan baik,” ia menambahkan.

Pernyataan tersebut memperkeruh ketegangan di bursa Wall Street, dan turut berkontribusi pada penurunan saham Apple. Bukan cuma Apple, saham-saham lain juga anjlok, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (4/1/2019) dari BusinessInsider.

Nasdaq yang menaungi indeks saham raksasa teknologi AS semacam Alphabet, Tesla, Facebook, eBay, Cisco, Amazon, Intel, dll, secara keseluruhan turun 1,3 persen.

Baca juga: Penjualan iPhone Lesu, Apple Salahkan Program Ganti Baterai

Begitu juga dengan Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 yang membawahi indeks saham sektor keuangan dan teknologi, masing-masing melemah 1,1 persen dan 0,9 persen di pembukaan jam dagang pekan ini.

Selain berpengaruh pada harga saham, perselisihan Amerika Serikat dan China juga berdampak pada mata uang internasional. Dollar AS, Poundsterling, dan Euro melemah, sementara Yen Jepang menguat.

Pada titik puncaknya, Yen naik 2,5 persen melawan Dollar AS, di mana 1 Dollar AS bernilai 104 Yen. Angka itu mencatat kelemahan Dollar AS terburuk di hadapan Yen sejak Maret 2018 lalu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X