Lebih dari 1 Miliar Data "Netizen" Bocor pada 2018

Kompas.com - 07/01/2019, 19:31 WIB
Ilustrasi peretas.Getty Images/iStockphoto Ilustrasi peretas.

KOMPAS.com - Bicara soal kebocoran data, momen yang paling melekat pada tahun 2018 adalah skandal Cambridge Analytica yang terjadi pada pertengahan tahun lalu. Kala itu lebih dari 80 juta data pribadi pengguna Facebook bocor ke perusahaan pihak ketiga.

Namun ternyata selama 2018 lalu, skandal kebocoran data tak hanya dialami oleh Facebook. Ada beberapa kasus yang juga menyeret perusahaan besar seperti Twitter dan Google.

Secara keseluruhan, ditaksir lebih dari 1 miliar pengguna terpapar dampak kebocoran data. Menurut pakar privasi dari NordVPN, Daniel Markuson, kasus kebocoran data ini kini tak lagi pandang bulu, bahkan perusahaan besar pun rentan melakukan kesalahan.

"Ini berarti semakin sulit untuk mempercayai mereka, karena kita tidak pernah tahu kapan data kita akan berakhir di tangan yang salah," ungkap Daniel.

Dari data yang diungkap oleh Daniel, skandal Cambridge Analytica yang menerpa Facebook memang menjadi kasus dengan jumlah korban terbanyak selama 2018. Namun berdasarkan catatan, ada beberapa perusahaan besar lainnya yang juga mengalami hal serupa.

Baca juga: Daftar 100 Password Mudah Ditebak Yang Masih Dipakai

Salah satu contohnya adalah Google. Menurut Daniel, ada sekitar 500.000 akun Google+ yang data pribadinya bocor ke pengembang pihak ketiga. Namun meski tak ada bukti bahwa data tersebut disalahgunakan, Google+ ditutup sepenuhnya untuk selamanya.

Contoh lain yang disebutkan Daniel adalah Twitter. Menurut catatannya, ada sekitar 330 juta data pengguna Twitter yang bocor. Bahkan pihak Twitter sendirilah yang mengakui bahwa ada bug keamanan yang telah mengekspos kata sandi dari 330 juta pengguna.

Perusahaan besar lain yang mengalami kebocoran data adalah Uber. Tercatat ada 57 juta informasi pribadi pengguna yang bocor.

Data tersebut adalah informasi nama dan nomor telepon dari 50 juta penumpang dan 7 juta pengemudi Uber di seluruh dunia.

Menurut Daniel, dikutip KompasTekno dari BGR, Senin (7/1/2019), kasus kebocoran data seperti ini sejatinya dapat diminimalisasi. Caranya, pengguna dianjurkan untuk membuat kata sandi (password) yang kuat dan unik.

Pengguna pun dianjurkan untuk mengubah kata sandi secara berkala dan tidak mencantumkan informasi pribadi secara berlebihan di dunia maya.



Close Ads X