Go-Jek Dilarang Ekspansi ke Filipina, Ini Alasannya - Kompas.com

Go-Jek Dilarang Ekspansi ke Filipina, Ini Alasannya

Kompas.com - 09/01/2019, 15:26 WIB
Suasana ruangan di Kantor Go-Jek, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).MURTI ALI LINGGA/KOMPAS.com Suasana ruangan di Kantor Go-Jek, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).

KOMPAS.com — Perusahaan ride hailing, Go-Jek berambisi memperluas bisnisnya di Asia Tenggara. Setelah Singapura dan Vietnam, Go-Jek menargetkan Filipina sebagai negara keempat di Asia Tenggara untuk ekspansi bisnis.

Sayangnya, rencana Go-Jek untuk mengaspal di jalanan Manila terganjal oleh regulasi bisnis transportasi setempat yang dikenal cukup ketat.

Otoritas transportasi Filipina (Land Transportation Franchising and Regulatory Board/LTFRB) menolak pengajuan Go-Jek di negaranya.

Penolakan pengajuan Go-Jek diterbitkan LTFRB melalui Resolusi No 096 tertanggal 20 Desember 2018, yang menyatakan penolakan pengajuan Go-Jek melalui Velox Technology Philippines, sebagai perusahaan transportasi jaringan (Transport Network Company/TNC).

Menurut komite pra-akreditasi dari LTFRB, Velox Technology Philippines, entitas yang menaungi Go-Jek di Asia tenggara, sebagian besar pemilik sahamnya adalah orang luar Filipina.

Hal itu melanggar hukum setempat yang menuntut setidaknya 60 persen saham perusahaan dimiliki oleh individu atau entitas dari Filipina.

Baca juga: Go-Jek Diundang Masuk Filipina untuk Saingi Grab

Sementara itu, 99,99 persen dari pemodal Velox South-East Asia Holdings, diketahui adalah orang Singapura. Kepala komite pra-akreditasi LTFRB, Samuel Jardin mengonfirmasi kabar tersebut.

Ia mengatakan bahwa Velox masih bisa mengajukan banding atas keputusan yang telah ditetapkan.

Regulasi tersebut merupakan tindak lanjut setelah Lembaga Transportasi memberlakukan "Department Order" (DO) nomor 2017-011 pada bulan Juni 2018, yang memasukan layanan transportasi kendaraan jaringan (transportation network vehicle service/TNVS) sebagai transportasi umum yang diakui pemerintah.

Sebelumnya, dalam DO nomor 2015-011, di bawah pemerintahan Presiden Aquino, TNVS masih diizinkan karena mengakui layanan ride-hailing seperti Go-Jek sebagai "bentuk layanan transportasi baru" bukan transportasi umum.

Menanggapi hal ini, pihak Go-Jek mengatakan masih akan terus membujuk pemerintah Filipina untuk tetap bisa memasuki Filipina.

"Kami terus medekati LTFRB secara positif dan lembaga pemerintah lainnya, karena kami ingin memberikan solusi transportasi yang sibutuhkan masyarakat Filipina," jelas perwakilan Go-Jek seperti dikutip KompasTekno dari Tech Crunch, Rabu (9/1/2019).

Baca juga: Berapa Jumlah Pengguna dan Pengemudi Go-Jek?

Mengapa Grab Lolos?

Sementara itu, Grab yang notabene adalah pesaing berat Go-Jek di Asia Tenggara, masih menjadi pemain ride-hailing dominan di Filipina, setelah mengakuisisi Uber tahun lalu.

Dilansir dari Tech Crunch, Grab mengatakan bahwa kehadirannya di Filipina sudah sesuai aturan. Salah satu perwakilan Grab mengklaim bahwa sebagian besar bisnis di Filipina dimiliki orang lokal.

Sayangnya, pihak Grab tidak menyebut secara detail siapakah individu atau entitas lokal yang menjadi pemilik bisnis Grab di Filipina.

Penolakan pengajuan Go-Jek di Filipina menjadi ganjalan besar, setelah mengamankan dana 1,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 21,2 triliun) dari funding round yang dilakukan akhir tahun lalu.

Go-Jek dikabarkan akan merampungkan investasi baru senilai 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 28,3 triliun) yang disebut akan digunakan untuk ekspansi ke tiga negara.

Sementara Grab, telah mendapatkan pendanaan 2 miliar dollar AS dari funding round seri H. Grab disebut akan menambah pendanaan hingga 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 70,7 triliun).

Baca juga: Struktur Perusahaan Go-Jek Terungkap dari Bocoran Dokumen



Close Ads X