Meski Dilarang, Iklan Penjual "Follower" Masih Marak di Instagram

Kompas.com - 16/01/2019, 14:58 WIB

KOMPAS.com - Instagram berulang kali menyatakan pihaknya melarang keras akun-akun yang menjual jasa menambah pengikut (follower) untuk wira-wiri di layanannya. Imbauan ini terakhir kali diumbar pada November 2018 lalu.

Ironisnya, Instagram masih saja menyediakan ruang bagi akun-akun tersebut untuk beriklan via Instagram Stories. Setidaknya begitu menurut temuan investigasi TechCrunch.

Tak kurang dari 17 akun penyedia jasa menambah followers yang otomatis menyebar notifikasi dan komentar spam ke pengguna, kepergok memanfaatkan iklan di Instagram untuk mempromosikan jasa mereka.

Baca juga: Instagram Akan Hapus "Like", Komentar, dan "Follower" Palsu

Temuan ini mengesankan Instagram tidak konsisten dengan kebijakannya, bahkan cenderung oportunis. Instagram seakan melarang akun-akun penjual follower beroperasi jika tak beriklan saja.

Merespons laporan dari TechCrunch, Instagram bergegas menghapus semua iklan dari akun-akun penjual followers. Bukan cuma itu, akun-akunnya sendiri pun diklaim cepat-cepat diblokir.

Namun, pembersihan itu cuma berlaku satu hari saja. Keesekon hari pasca TechCrunch melapor ke Instagram, masih ditemukan lima akun penjual follower yang membayar iklan promosi ke Instagram.

Pertanyaan besarnya, apakah Instagram benar-benar ingin memusnahkan akun-akun spam dari layanannya atau cuma sebatas kata-kata saja? Lantas mengapa aksi nyata baru dilakukan ketika ada laporan investigasi yang mengungkap praktik ini?

Pelanggaran data pribadi

Terlepas dari pertanyaan yang cuma diketahui kebenarannya oleh Instagram, ada baiknya menilik cerita di balik investigasi ini. Jurnalis TechCrunch, Josh Contine, menceritakan secara runut proses penyelidikannya.

“Saya memulai investigasi ini sekitar bulan lalu, setelah melihat iklan Instagram Stories dari akun bernama ‘GramGorilla’,” kata dia.

Iklan itu menampakkan seorang pria yang mengaku jumlah pengikutnya bertambah setelah menggunakan layanan GramGorilla. Ada tautan khusus pada iklan tersebut yang membawa pengguna ke proses transaksi.

Instagram mengiklankan layanan penyedia followers palsu.TechCrunch Instagram mengiklankan layanan penyedia followers palsu.
"Paket" follower yang ditawarkan beragam, mulai dari 46 dollar AS hingga 126 dollar AS (Rp 651.000 hingga Rp 1,7 jutaan) per bulan. Pengguna dijanjikan bisa menambah 1.000 hingga 2.500 pengikut.

Baca juga: Mirip Snapchat, Pengguna Instagram Kini Bisa "Follow" dengan "Nametag"

Taktik yang dilakukan layanan semacam GramGorilla ini bisa dibilang sebagai bentuk pelanggaran data pribadi pengguna. Sebab, sang pembeli jasa harus memberikan username dan password akun mereka.

Selanjutnya, GramGorilla dkk bakal otomatis menggunakan akun pengguna untuk follow dan unfollow, like, serta berkomentar di akun Instagram orang lain yang tak dikenal oleh pengguna.

Tujuan aktivitas spamming ini adalah memberikan notifikasi ke orang-orang asing tersebut, sehingga memancing rasa penasaran dan keinginan untuk follow akun sang pengguna jasa.

Trik mengurangi tanggung jawab

Selain GramGorilla, ada 16 layanan penjual followers lainnya yang dihimpun Josh Contine.

Nama-namanya adalah SocialUpgrade, MagicSocial, EZ-Grow, Xplod Social, Macurex, GoGrowthly, Instashop/IG Shops, TrendBee, JW Social Media Marketing, YR Charisma, Instagrocery, Social Sensational, SocialFuse, We Grow Social, IG Wildfire, dan Glamflare.

TrendBee dan Gramflare ditemukan masih beroperasi pasca Instagram mengaku telah membersihkan semua layanan spam tersebut. Berikutnya, ada lagi lima akun serupa yang ditemukan.

Masing-masing adalah FireSocial, InstaMason/IWentMissing, NexStore2019, InstaGrow, dan Servantify, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Rabu (16/1/2019).

Baca juga: Instagram Bisa Posting Foto dan Video ke Banyak Akun Sekaligus, Begini Caranya

Josh Contine lantas menghubungi GoGrowthly untuk menanyakan apakah pihaknya tahu soal kebijakan Instagram yang melarang keras bisnis tersebut. Jawabannya cukup jujur dan berbahaya, sehingga sang perwakilan menolak identitasnya diumbar.

“Kami tentu saja melanggar aturan Instagram. Kami masuk dan menumpang layanan gratis mereka untuk menghasilkan duit dan tidak memberikan pendapatan besar bagi mereka,” Josh Contine menuturkan.

“Instagram tak suka cara kami. Kami menggunakan proxy pribadi tergantung pada lokasi geografis klien. Ini semacam trik untuk mengurangi segala bentuk tanggung jawab,” ia menambahkan.

Melihat kesadaran dan optimisme penjual follower via spam tersebut, agaknya Instagram perlu berstrategi lebih jitu untuk membasmi layanan-layanan penyedia jasa macam ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber TechCrunch
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.