Samsung dan Apple Loyo Sepanjang 2018, Huawei Laris

Kompas.com - 01/02/2019, 09:22 WIB
Huawei Mate 20 Pro memiliki tiga kamera belakang dengan karakteristik yang berbeda beda yakni kamera standar, kamera ultra-wide angle dan kamera telefoto. KompasTekno/Yudha Pratomo Huawei Mate 20 Pro memiliki tiga kamera belakang dengan karakteristik yang berbeda beda yakni kamera standar, kamera ultra-wide angle dan kamera telefoto.

KOMPAS.com - Sebanyak 1.404 miliar smartphone terjual di pasaran global sepanjang 2018. Angka itu turun 4,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandai tahun terburuk bagi industri smartphone.

Samsung memimpin dengan pengapalan 292,3 juta unit smartphone dan pangsa pasar 20,8 persen. Akan tetapi, angka itu sejatinya turun 8 persen dari pengapalan 317,7 juta unit smartphone pada 2017 lalu.

Bukan cuma Samsung, Apple pun mengalami penurunan jumah pengapalan iPhone sebesar 3,2 persen. Di tengah keadaan yang memburuk, Huawei dan Xiaomi justru menjadi anomali, karena tumbuh signifikan.

Huawei mencatat pertumbuhan 33,6 persen dan menempati posisi ketiga di bawah Apple. Sebanyak 206 juta smartphone dikapalkan ke seluruh dunia selama setahun.

Baca juga: Pasar Smartphone Lesu, Penjualan Ponsel Rp 5 Jutaan Malah Tumbuh

Perlu dicatat, baru kali ini pengiriman smartphone Huawei tembus angka 200 juta untuk periode 12 bulan. Pabrikan China yang tengah dirundung masalah politik dengan AS itu berhasil meraup 14,7 persen pangsa pasar global.

Xiaomi berada di bawahnya dengan pertumbuhan 32,2 persen. Jumlah smartphone yang dikapalkan Xiaomi tak kurang dari 122,6 juta, mengambil pangsa pasar 8,7 persen.

Pengapalan smartphone sepanjang 2018 IDC Pengapalan smartphone sepanjang 2018

Oppo menduduki posisi kelima dengan pertumbuhan tak seberapa, yakni cuma 1,3 persen. Pabrikan China itu mengapalkan 113,1 juta smartphone sepanjang 2018 dengan pangsa pasar 8,1 persen, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Kamis (31/1/2019), dari PhoneArena.

Menurut Apple, kelesuan industri smartphone tak lepas dari dampak perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Penguatan harga dollar AS menurunkan daya beli masyarakat di negara berkembang.

Gesekan antara China dan Amerika Serikat pun sedikit banyak melibatkan Huawei. Negara Adikuasa menuduh Huawei selama ini menjadi mata-mata untuk China.

Produk Huawei pun dilarang beredar di Amerika Serikat. Bukan cuma itu, putri sang pendiri perusahaan juga ditahan oleh kepolisian Kanada. Hingga kini, kasus masih terus berlangsung. Kita tunggu saja seperti apa akhirnya dan bagaimana dampaknya ke industri. 



Close Ads X