Kompas.com - 18/02/2019, 18:11 WIB
Ilustrasi Tinder IstIlustrasi Tinder

KOMPAS.com - Seiring berganti generasi, cara mencari pasangan turut berevolusi. Dari sayembara atau perjodohan pada era pra-milenium, kini cukup melalui gadget yang bisa jadi medium.

Saat ini, ada banyak aplikasi kencan online bertebaran. Salah satu yang paling populer adalah Tinder. Dalam laporan keuangannya akhir tahun lalu, Tinder mengklaim memiliki 4,1 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia.

Bermodalkan gadget yang terkoneksi internet, maka pencarian jodoh bisa dengan mudah dilakukan. Cukup swiper-left (usap kiri) jika kurang tertarik dengan calon yang disodorkan, atau swipe-right (usap kanan) jika dirasa ingin berkenalan.

Tapi bagaimana bisa, sebuah aplikasi menyomblangkan penggunanya? Apakah algoritma bekerja secara acak memilihkan beberapa calon bagi penggunanya ataukah ada resep khusus?

Menjawab pertanyaan tersebut, CEO Tinder, Sean Rad mengatakan bahwa aplikasi besutanya menggunakan sistem bernama "Elo Score" skor elo). Skor ini umum digunakan sebagai tolok ukur kemampuan seorang pecatur.

Baca juga: Ini Profesi yang Sukses Datangkan Jodoh di Tinder

Merangking pengguna

Tim backend Tinder mengalkulasi untuk nantinya merangking pengguna berdasarkan yang paling banyak di-swipe-right hingga yang paling sedikit. Skor ini tidak muncul di publik untuk alasan tertentu.

Sistem inilah yang menjadi dasar analisis perjodohan digital. Dengan sistem ini, Tinder bisa memunculkan lebih banyak peluang perjodohan berdasarkan kompatibilitas skor. Skor elo ibarat sebuah proposal, yang digunakan untuk menentukan kepada siapa profil Anda akan ditujukan.

Rad menekankan bahwa skor ini secara teknis tidak mengukur tingkat ketertarikan, namun lebih kepada seberapa "diinginkannya" pengguna tersebut dengan menggabungkan algoritma yang lebih kompleks.

Ia mengatakan bahwa ketertarikan bisa saja hanya ditentukan berdasarkan seberapa menarik foto profil yang dipasang pengguna.

"(Kecocokan) ini tidak hanya mengukur seberapa banyak orang yang memilih (swipe-right) Anda. Ini lebih rumit. Cara ini membutuhkan waktu dua setengah bulan untuk kami membangun algoritma, karena banyak sekali faktor yang tercakup di dalamnya," jelas Rad.

Ia tidak menjelaskan secara detail faktor-faktor seperti apa yang dimaksud. Namun bisa dibayangkan kemungkinan-kemungkinan informasi pengguna yang digunakan untuk merangking daftar yang "diinginkan".

Informasi itu bisa saja tentang seberapa banyak pengguna yang pilihannya tidak bertepuk sebelah tangan - sama-sama menggunakan gestur swipe right - lalu seberapa banyak pula yang Anda swipe-left atau tolak. Informasi tambahan lain seperti pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya bisa jadi dilibatkan untuk menentukan skor.

Jodoh yang sepadan

Jonathan Badeen, VP Product Tinder, lantas mengilustrasikan cara Tinder mencocokan skor elo pengguna dengan pengguna lainnya. Ia mengibaratkan seperti bermain video game Warcraft.

"Kapanpun Anda bermain dengan orang yang memiliki skor lebih tinggi, Anda akan berakhir dengan skor tinggi, dibanding jika Anda bermain dengan orang yang memiliki skor rendah," jelasnya.

Sederhananya, jika skor Anda 8, pengguna yang akan melihat profil Anda tidaklah mungkin di bawah skor 8, maupun di atasnya.

"Itulah yang mendasari perjodohan pengguna dan merangking mereka dengan lebih cepat serta akurat, berdasarkan kepada siapa mereka dicocokan," imbuhnya.

Skor Elo bisa diubah dengan memodifikasi profil lebih baik, seperti memasang foto profil terbaik dan memuat informasi lebih banyak. Salah satu Tinderella - pengguna Tinder wanita - mengungkapkan di forum tanya jawab Quora bahwa menjadi terlalu pemilih di Tinder juga tidak baik untuk skor elo.

Akan tetapi, jika Anda sering swipe-right secara acak tanpa melihat-lihat, Tinder juga tidak akan menyodorkan calon pasangan lebih banyak.

Hasil Akhir di Tangan Pengguna

Di balik dapur algoritma Tinder dengan segala kerumitan skor elo yang disusun, pada akhirnya pengguna lah yang menentukan. Seperti dikatakan sebelumnya, ada banyak faktor yang digunakan untuk memintal algoritma demi memudahkan pengguna menemukan calon pasangan yang cocok.

"Tiap kali Anda usap ke kanan kepada orang tertentu dan usap ke kiri pada orang lainnya, maka pada dasarnya Anda mengatakan bahwa 'orang ini lebih saya inginkan dibanding orang lain'," jelas data analis Tinder, Chris Dumler.

Ia menjabarkan, cara memilih ini ibarat meberikan hak suara kepada seseorang dibanding orang lainnya dengan segala motivasi yang dimiliki si pemilih. Motivasi tersebut bisa macam-macam, bisa saja memang karena tertarik atau mungkin kerana profilnya sangat bagus.

Dilansir KompasTekno dari Fast Company, Kamis (14/2/2019), para teknisi Tinder di belakang layar menggunakan informasi-informasi ini untuk mempelajari bagaimanakah profil yang memiliki daya pikat secara menyeluruh.

Menurut Solli-Nowlan, salah satu teknisi Tinder, skor elo bukanlah daya tarik universal.
Artinya, penetuan diinginkan atau tidak akan kembali ke pengguna.

Misalnya pada foto profil, bisa jadi ada pengguna yang menyukai foto profil seseorang saat terjun payung karena menurutnya orang tersebut menyukai petualangan dan tantangan. Namun, pasti ada sebagian orang yang tidak suka atau bahkan tidak melirik foto profil tersebut.

Pada akhirnya, Tinder, dan beragam aplikasi kencan online lainnya hanya berupa medium. Pekara perjodohan Tinder berhasil atau tidak, kembali lagi ke pengguna, bukan algoritma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Timnas E-sports Mobile Legends Indonesia Lolos ke Babak Grand Final SEA Games 2021

Timnas E-sports Mobile Legends Indonesia Lolos ke Babak Grand Final SEA Games 2021

Software
Menurut Survei, Netflix Semakin Ditinggal Pelanggannya

Menurut Survei, Netflix Semakin Ditinggal Pelanggannya

e-Business
20 Link Download Twibbon Hari Kebangkitan Nasional 2022 dan Cara Pakainya

20 Link Download Twibbon Hari Kebangkitan Nasional 2022 dan Cara Pakainya

Software
Apa itu Akun Bot atau Spam yang Bikin Elon Musk Tunda Beli Twitter?

Apa itu Akun Bot atau Spam yang Bikin Elon Musk Tunda Beli Twitter?

e-Business
Menhub Minta Boeing Penuhi Kebutuhan Pesawat Garuda dan Lion Group

Menhub Minta Boeing Penuhi Kebutuhan Pesawat Garuda dan Lion Group

Hardware
Google Hapus Aplikasi Perekam Telepon di Play Store Karena Dinilai Langgar Privasi

Google Hapus Aplikasi Perekam Telepon di Play Store Karena Dinilai Langgar Privasi

Software
TikTok Siapkan Fitur Branded Mission, Bikin Video Iklan Bisa Dapat Uang

TikTok Siapkan Fitur Branded Mission, Bikin Video Iklan Bisa Dapat Uang

Software
iPhone atau Macbook Hilang, Apa yang Harus Dilakukan?

iPhone atau Macbook Hilang, Apa yang Harus Dilakukan?

Hardware
Riset Sebut iPhone Bisa Terinfeksi Malware Meski dalam Keadaan Mati

Riset Sebut iPhone Bisa Terinfeksi Malware Meski dalam Keadaan Mati

Software
Oppo Ajak Penggemar PUBG Mobile Main Bareng Bigetron, Ini Link Pendaftarannya

Oppo Ajak Penggemar PUBG Mobile Main Bareng Bigetron, Ini Link Pendaftarannya

Software
Tabel Spesifikasi dan Harga Advan Nasa Pro yang Dibanderol Rp 1 Jutaan

Tabel Spesifikasi dan Harga Advan Nasa Pro yang Dibanderol Rp 1 Jutaan

Gadget
Xiaomi Redmi 10A Resmi di Indonesia, Harga Rp 1,5 Jutaan

Xiaomi Redmi 10A Resmi di Indonesia, Harga Rp 1,5 Jutaan

Gadget
YouTube Luncurkan 'Most Replayed', Permudah Tonton Bagian Video yang Sering Diulang

YouTube Luncurkan "Most Replayed", Permudah Tonton Bagian Video yang Sering Diulang

Software
Apa itu ICAO? Organisasi Aviasi yang Tawari Indonesia Jadi Anggota Dewan

Apa itu ICAO? Organisasi Aviasi yang Tawari Indonesia Jadi Anggota Dewan

e-Business
Huawei Mate Xs 2 Resmi Meluncur Global, Harga Rp 30 Jutaan

Huawei Mate Xs 2 Resmi Meluncur Global, Harga Rp 30 Jutaan

Gadget
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.