Asal Usul Kata Unicorn di Industri "Startup", Mengapa Bisa Dipakai?

Kompas.com - 18/02/2019, 19:19 WIB
Manusia yang hidup di Jerman pada abad ke-17 benar-benar percaya bahwa unicorn ada. Manusia yang hidup di Jerman pada abad ke-17 benar-benar percaya bahwa unicorn ada.

KOMPAS.com - Minggu (17/2/2019) malam, istilah "unicorn" ramai diperbincangkan warganet saat debat calon presiden 2019 putaran kedua berlangsung.

Unicorn menjadi buah bibir lantaran calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto terlihat tidak terlalu paham istilah unicorn saat calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) melempar pertanyaan soal itu.

"Infrastruktur apa yang akan bapak bangun untuk mendukung pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?," tanya Jokowi.

Prabowo pun berdiri untuk mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

"Yang Bapak maksud unicorn? Unicorn yang online-online itu?," respons Prabowo sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.

Itulah muasal istilah unicorn menjadi perbincangan di media sosial. Tapi sebenarnya, apakah unicorn itu? Dari mana istilah itu berawal? Mengapa harus menyomot nama unicorn, bukan istilah lainnya?

Obsesi magis

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara singkat, istilah unicorn disematkan bagi perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi lebih dari satu miliar dollar AS atau jika dikonversi ke rupiah saat ini, nilainya mencapai Rp 14,1 triliun.

Baca juga: 2020, Indonesia Targetkan Punya 44 Startup Unicorn, Ini Daftarnya

Istilah ini pertama kali muncul sekitar tahun 2013 lalu yang ditulis secara publik oleh Aileen Lee, seorang pemodal ventura dari Cowboy Ventures.

Lee menggunakan istilah itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan Tech Crunch dengan judul "Welcome to the Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups".

Sejak saat itu, "unicorn" menjadi kosa kata baru di bidang investor publik dan swasta, pengusaha, dan siapapun mereka yang bekerja di industri teknologi.

Aileen Lee, pemodal ventura yang menemukan istilah Unicorn di industri startup digital.Recode.net Aileen Lee, pemodal ventura yang menemukan istilah Unicorn di industri startup digital.
Mengapa harus unicorn, mitos seekor kuda bertanduk satu, yang sebagian besar orang tidak percaya mereka ada, sedangkan valuasi perusahaan itu riil terhitung angka dan nyata?

Lee menganggap istilah unicorn mampu menggambarkan obsesi magis para startup yang berburu valuasi hingga miliaran dollar AS. Ditambah kala itu, masih sedikit perusahaan rintisan yang memiliki valuasi 1 miliar dollar AS.

"Mengapa para investor sangat peduli dengan miliaran dollar "exit" (pencairan atas kekayaan)?", tulisnya dalam artikel.

Padahal menurut Lee, secara historis, para pemodal ventura kelas atas berupaya meningkatkan hasil investasi mereka, hanya dari kepemilikan beberapa perusahaan yang telah mereka sokongi dana.

Modal ventura tradisional juga kian meningkat, mensyaratkan pencairan (exit) lebih besar, agar imbal hasil investasinya setinggi modal yang diberikan.

Baca juga: Menkominfo Jagokan Startup Fintech sebagai Unicorn Berikutnya

"Misalnya, untuk mengembalikan modal awal 400 juta dollar AS dana ventura, mungkin akan butuh kepemilikan masing-masing 20 persen saham dari dua perusahaan yang berbeda dengan valuasi 1 miliar dollar AS, atau 20 persen dari perusahaan yang memiliki valuasi 2 miliar dollar AS ketika perusahaan tersebut diakusisi atau menjadi publik," terang Lee.

Dari sinilah, Lee bertanya-tanya, seberapa mungkin sebuah startup digital mencapai valuasi 1 miliar dollar AS agar menarik bagi investor.

Kemungkinan yang saat itu masih jarang diperoleh startup, dijadikan alasan Lee untuk menyebutnya "unicorn". Ia pun tak menampik bahwa istilah itu cukup aneh dan kurang pas.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cek Fakta Unicorn Indonesia
"Ya, kami tahu istilah "unicorn" tidaklah tepat, unicorn mungkin tidak nyata dan perusahaan-perusahaan itu nyata, tapi kami menyukai istilah itu karena bagi kami, hal itu berarti sesuatu yang sangat jarang dan bersifat magis," paparnya, dikutip KompasTekno dari Tech World, Senin (18/2/2019).

Setelah unicorn

Istilah unicorn pun dikembangkan menjadi decacorn, untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki valuasi di atas 10 miliar dollar AS. Ada juga istilah hectocorn untuk menyebut startup dengan valuasi di atas 150 miliar dollar AS.

Dalam skala regional, menurut data Google-Temasek tahun 2018, Asia Tenggara kini memiliki sembilan startup unicorn, empat di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka adalah perusahaan ride-hailing Go-Jek, e-commerce Tokopedia, layanan tiket online Traveloka, dan e-commerce Bukalapak.

Sejauh ini, Asia Tenggara baru memiliki satu startup decacorn, yakni Grab. Isu terakhir yang berkembang, pesaing Grab yakni Go-Jek disebut akan segera menyusul menjadi startup decacorn.

Laporan Tech Crunch menyebut valuasi Go-Jek setelah putaran pendanaan terakhir ditaksir mencapai 9,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 134 triliun).

Baca juga: Go-Jek Dapat Suntikan Dana Segar dari Google, JD, dan Tencent



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.