Google Tolak Hapus Aplikasi Diskriminatif dari Play Store

Kompas.com - 04/03/2019, 16:32 WIB
Cetakan-cetakan batik cap aneka pola menghiasi logo Google di kantornya di Indonesia Oik Yusuf/Kompas.comCetakan-cetakan batik cap aneka pola menghiasi logo Google di kantornya di Indonesia

KOMPAS.com - Meski telah mendapat kecaman dari organisasi HAM dan parlemen AS, Google menolak untuk menghapus aplikasi kontroversial bernama Absher dari toko aplikasi miliknya. 

Menurut Google, meski aplikasi Absher dituding memfasilitasi pemerintah Arab untuk melakukan disrkiminasi pada wanita, pihaknya telah melakukan pengecekan dan menyatakan aplikasi tersebut tidak melanggar aturan.

Aplikasi tersebut dikritik oleh organisasi Hak Azasi Manusia dan para politisi di Washington. Pasalnya, aplikasi Absher ini disinyalir ikut memfasilitasi terjadinya diskriminasi terhadap perempuan di Arab Saudi.

Absher dirilis oleh pemerintah Arab Saudi pada tahun 2015 lalu dan terdaftar dalam kategori "produktivitas" di Google Play Store dan Apple Store.

Pada dasarnya, Absher merupakan aplikasi resmi yang dirilis pemerintah Arab, bagi warganya yang ingin menggunakan layanan Kementerian Dalam Negeri di sana. Aplikasi ini dapat mempercepat birokrasi seperti pengajuan visa, pendaftaran nomor kendaraan, hingga membuat janji dengan pemerintah setempat.

Namun pada aplikasi ini menjadi kontroversial karena juga memfasilitasi undang-undang perwalian negara. Undang-undang tersebut berisi aturan tentang kewajiban wanita yang harus meminta izin untuk bepergian kepada pasangan atau saudara laki-laki.

Dengan aplikasi ini, wali pria dapat memberikan atau mencabut izin wanita untuk bepergian. Bahkan wali pria bisa mendaftarkan nomor paspor wanita tersebut dan melakukan pencekalan ke luar negeri jika diinginkan.

"Kerajaan Saudi berupaya membatasi dan menekan Wanita. Tetapi perusahaan-perusahaan Amerika, seharusnya tidak ikut memfasilitasi patriarki pemerintah Saudi ini," tulis Senator Ron Wyden kepada Sundar Pichai dan Tim Cook, CEO Google dan Apple pada Februari lalu.

Dikutip KompasTekno dari Newsweek, Senin (4/3/2019), baik Google maupun Apple sejatinya sudah diberi tenggat hingga 28 Februari lalu untuk menghapus aplikasi tersebut. Namun sampai saat ini, aplikasi tersebut masih dapat ditemukan baik di Google Play Store maupun Apple Store.

Meski dituding memfasilitasi terjadinya diskriminasi pada wanita, pihak Absher sendiri mengklaim aplikasi tersebut juga banyak digunakan oleh wanita. Menurut perusahaan, ada sebanyak lebih dari 2 juta pengguna wanita menggunakan aplikasi tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Newsweek
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X