Facebook Tuntut Dua Pembuat Kuis yang Mencuri Data Pengguna

Kompas.com - 11/03/2019, 20:17 WIB
Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.AFP PHOTO/LOIC VENANCE Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Facebook menuntut dua pria asal Ukraina atas tuduhan pencurian data pengguna. Kedua pria bernama Gleb Sluchevsky dan Andrey Gorbachov itu disinyalir telah mencuri puluhan ribu data pengguna Facebook selama satu tahun terakhir. 

Sluchevsky dan Gorbachov diduga melakukan pencurian data melalui sebuah aplikasi jahat. Aplikasi tersebut berupa kuis-kuis ringan yang dapat membaca karakter atau kepribadian si pengguna.

Gugatan ini dilayangkan Facebook pada Jumat, (8/3/2019) pekan lalu. Facebook menuduh kedua tergugat telah melanggar Undang-undang Tentang Penipuan dan Penyalahgunaan Komputer, serta mengakses data Facebook tanpa otorisasi.

Baca juga: Facebook dan Instagram Gugat Penjual "Like" dan Akun Palsu

Dalam dokumen gugatan yang diajukan, Facebook menuding Sluchevsky dan Gorbachov telah membujuk para pengguna untuk memasang sebuah plug-in jahat pada browser mereka.

Sluchevsky dan Gorbachov diduga mengoperasikan empat aplikasi web, termasuk kuis "Supertest" dan "FQuiz", yang memancing pengguna agar memberikan data pribadi mereka.

Aplikasi-aplikasi kuis tersebut menggunakan fitur login Facebook dan mengklaim hanya mengumpulkan informasi secara terbatas, walau sebenarnya tidak demikian. Informasi pribadi itulah yang digunakan untuk bermain kuis dan membaca karakter pengguna. 

Pada kenyataannya, aplikasi kemudian mengarahkan pengguna untuk memasang ekstensi browser web yang kemudian membuka akses ke akun Facebook pengguna. Tak hanya itu, kabarnya para pelaku pun bisa mencuri data dari akun media sosial lainnya.

Dihimpun KompasTekno dari The Verge, Senin (11/3/2019), aplikasi jahat macam yang disebutkan di atas menarget pengguna Facebook yang berada di wilayah Rusia dan Ukraina.

Facebook pun merasa dirugikan karena kasus ini dianggap telah merusak hubungan dan kepercayaan dengan penggunanya. 

Baca juga: Tersangkut Skandal Privasi Baru, Facebook Salahkan Pengguna

Facebook sendiri enggan menjadi pihak yang disalahkan atas kebocoran data dalam kasus ini karena kebocoran data pengguna disebabkan oleh kelalaian mereka memasang ekstensi browser berbahaya.

Dengan demikian, kasus ini berbeda dengan kebocoran data yang terjadi dalam insiden Cambridge Analytica, di mana Facebook bertanggung jawab sepenuhnya atas pencurian data tersebut.

Menurut gugatan, Facebook menemukan kejahatan ini melalui penyelidikan ekstensi berbahaya dan telah menangguhkan akun-akun pelaku pada 12 Oktober 2018. Facebook lalu menghubungi para pembuat browser untuk memastikan ekstensi tersebut dihapus.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X