Ketika Facebook Ingin Jadi "Sesuper" WeChat

Kompas.com - 12/03/2019, 15:16 WIB
Ilustrasi aplikasi WeChat.Ist Ilustrasi aplikasi WeChat.

KOMPAS.com - CEO Facebook, Mark Zukcerberg baru-baru ini mengungkap rencananya untuk membuat Facebook menjadi "super apps", di mana akan ada banyak layanan dalam satu aplikasi yang bisa dimanfaatkan pengguna.

Itu artinya, Facebook tak hanya menjadi aplikasi jejaring sosial saja, tapi merambah ke layanan seperti gaming, pembayaran digital, pemesanan tiket, dan lain sebagainya. Konsep ini serupa dengan aplikasi media sosial WeChat di China.

Sama halnya dengan Facebook, WeChat mulanya adalah sebuah media sosial yang menghubungkan manusia di dunia maya. Namun kini, WeChat yang telah terpasang di 800 juta smartphone di China menjelma menjadi aplikasi serba guna yang menawarkan banyak layanan.

Misalnya, gaming, perbankan, memesan makanan, memesan transportasi on-demand, hingga menjadi KTP digital di China.

Saking dominannya, WeChat menjadi aplikasi yang paling dibutuhkan warga China dan hampir mustahil disaingi media sosial lain.

Sebagai apliksi serba ada, WeChat seakan menggantikan aplikasi bawaan pabrikan ponsel seperti Apple, Samsung, atau Xiaomi. Bahkan, WeChat hampir menyerupai sistem operasi yang memuat banyak fitur seperti Android atau iOS.

"Apa yang telah dilakukan WeChat adalah dengan menambatkan layanan baru secara konstan di paltform mereka. Fitur-fitur baru tersebut mengambil manfaat dari efek jaringan yang kuat, yang telah dimiliki WeChat sebagai penguasa aplikasi perpesanan di China," jelas Willy Shih, profesor Management Practice di Harvard Business School.

Dengan semakin banyaknya layanan baru yang ditambahkan, WeChat menjadi aplikasi integral yang menjadi bagian sehari-hari warga China yang sulit dilepas. Warga di China di sini tak melulu kelas menengah atau kelas atas saja.

Sebab, menurut Shih, WeChat juga digunakan para pengemis untuk meminta-minta. Mereka menyediakan kode QR agar orang lain bisa memberikan uang dengan memindai kode tersebut melalui pembaca kode QR di WeChat.

Baca juga: Studi: YouTube Bikin Jumlah Penganut Teori Bumi Datar Meningkat

Terencana sejak lama?

Niatan Facebook menjadi "super apps" kabarnya sudah lama terendus. Konon, rencana ini diawali dengan akuisisi Instagram pada tahun 2012 yang disusul WhatsApp tahun 2014.

Dengan bergabungnya WhatsApp dan Instagram, beban Messenger sebagai "super apps" Facebook pun berkurang.

Sejak berdiri sebagai aplikasi standalone tahun 2011, Messenger menambahkan beragam fitur baru. Sebut saja fitur gaming, robot chat AI, fitur AR di kamera, pembayaran mobile, dan beragam fitur lain.

Tak hanya sampai di situ, Zuckerberg masih menyimpan ambisi lain untuk Messenger dengan merekrut David Marcus.

Ia adalah seorang enterpreneur yang sukses besar dan mengatur akuisisi strategis PayPal terhadap perusahaan sistem web payment untuk e-commerce berbasis di Chicago, yakni Braintree.

Perekrutan Marcus ini disinyalir menjadi ambisi Facebook untuk mengubah Messenger menjadi layanan provider.

Belum lagi, Facebook juga mengumbar rencananya untuk menggabungkan semua aplikasi yang berada di bawah naungannya, mulai dari Messenger, Instagram, dan WhatsApp.

Jika rumor tersebut benar, maka Zuckerberg akan benar-benar akan membuat WeChat versi global.

Itu berarti, ke depan, pengguna Facebook semakin banyak mengonsumsi aplikasi tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya sekadar dibuka untuk mengecek percakapan grup, atau mengecek siapa yang sedang berulang tahun, tapi juga untuk menawarkan dan membeli produk di Instagram serta berbagi berita di Facebook dan Instagram.

Baca juga: Cara Agar Facebook Tak Melacak Lokasi Kita

Butuh bantuan Multipihak

Membangun sebuah jaringan besar tentu tak mudah. Tak terkecuali dengan WeChat. Aplikasi ini berada di bawah naungan Tencent yang mendapat subsidi dari pemerintah setempat. Para kompetitornya, tertama produk asing, seperti Messenger, Line, dan WhatsApp, diblokir.

Sehingga WeChat seakan menjadi pemain tunggal di rumah sendiri. Subsidi pemerintah juga bukan berarti tanpa imbalan. Dilansir KompasTekno dari The Verge, Senin (11/3/2019), sebagai imbalan, pemerintah meminta akses untuk mengoleksi pesan WeChat yang telah terhapus dengan dalih untuk membantu investigasi polisi.

Sayangnya, Tencent enggan memberikan komentar terkait hal ini. WeChat amat populer di China namun tidak secara global. Di situlah Facebook ingin merangsek sebagai super apps global, mengambil area yang gagal dimasuki WeChat.

Facebook dan WhatsApp sendiri adalah media sosial paling banyak digunakan di dunia, versi Pew Research Center. Barulah, disusul media sosial lain, seperti Snapchat, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya.

Tak hanya fokus pada aplikasi, Facebook juga berencana untuk membangun koneksivitas internet di beberapa negara berkembang dalam beberapa proyek. Proyek pertama adalah Terragraph, di mana Facebook menggandeng Qualcomm untuk menanamkan teknologi WiFi berkecepatan tinggi di chipset-nya.

Kedua adalah proyek Express WiFi, sebuah aplikasi yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan internet di daerah terpencil.

Indonesia menjadi salah satu negara proyek ini yang mulai diluncurkan tahun 2018 lalu di Surabaya, bekerja sama dengan salah satu perusahaan IT ternama di kota tersebut.

Baca juga: Membatasi Pemakaian Media Sosial Ternyata Bisa Kurangi Rasa Kesepian

Terancam hadangan pemerintah

Berbeda dengan WeChat yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah, Facebook yang notabene memiliki pasar lebih luas, akan mendapat hambatan dari Komisi Eropa dan Kongres di AS.

Facebook juga pernah diminta sekelompok aktivis yang menamakan diri mereka Citizens Against Monopoly untuk memisahkan WhatsApp dan Instagram karena dinilai berpotensi memonpoli media sosial.

Paling baru, salah satu senator AS yakni Elizabeth Warren, yang berencana maju dalam pemilu presiden AS 2020, mengampanyekan bahwa jika ia akan terpilih, perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Amazon, dan Facebook akan dipecah.

Selain itu, Facebook akan mengalami pelambanan pertumbuhan pengguna layaknya WeChat yang minim digunakan generasi muda, bergantung pada pemasukan dari iklan, regulasi pemerintah Barat yang seringkali sangat ketat soal privasi.



Close Ads X