Microsoft Sebut Implementasi AI di Indonesia Masih Minim

Kompas.com - 12/03/2019, 16:16 WIB
Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft IndonesiaKOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma Pertiwi Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Menurut studi yang dilakukan Microsoft bersama dengan firma riset IDC tentang adopsi kecerdasan buatan ( artificial intelligence/AI) di kawasan Asia Pasifik, Indonesia terbilang masih minim dalam pengadopsian teknologi tersebut.

Survei bertajuk "Future Ready Business: Assessing Asia Pasific's Growth Potential Through AI" ini membuktikan hanya 14 persen perusahaan di Indonesia yang telah benar-benar mengadopsi AI.

Survei ini mengamnil sampel dari perusahaan di sektor industri agrikultur, otomotif, pendidikan, kesehatan, manufaktur, ritel, telekomunikasi, media, jasa keuangan, pemerintah, dan layanna jasa.

Dari studi yang melibatkan 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia, rendahnya adopsi AI disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan antara pemimpin dan karyawan mengenai implementasi AI. Terutama masih banyaknya pekerja yang skeptis dengan adopsi AI di perusahaannya.

Baca juga: Pertama di Dunia, Menteri Artificial Intelligence Ada di UEA

"Pegawai lebih skeptikal dibanding pemimpin bisnis tentang pengadopsian AI di organisasi mereka," ungkap Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia dalam sebuah acara temu media di Jakarta, Rabu (12/3/2019).

Kendati demikian, sudah banyak perusahaan yang mulai ancang-ancang untuk memgimplementasikan AI dan melakukan eksperimen.

"Sebesar 42 persen sudah berencana mengadopsi dan mulai bereksperimen dengan AI. Ini kabar bagus untuk kita," imbuh Haris.

Ia menambahkan, masih ada 44 persen perusahaan yang disurvei, yang sama sekali belum mengadopsi AI. Tak hanya perusahaan, AI juga mulai diterapkan di sektor pemerintah.
Haris mengatakan bahwa sudah banyak kementrian di Indonesia yang bereksperimen dengan AI.

"Sebab data yang dikelola pemerintah itu banyak sekali. Ada yang manual ada yang digital. Banyak pemerintah yang bertanya kepada kami bagaimana cara menggunakan AI (untuk mengelola data)," jelasnya.

Selain paradigma negatif tentang AI yang mengancam pekerjaan manusia, Haris menjabarkan tiga tantangan lain yang dihadapi untuk mendorong perusahaan menggunakan AI.
Ketiga hal tersebut adalah kepemimpinan, kemampuan (skill), dan budaya.

"Di Microsoft sendiri, kami masih dalam perjalanan transformasi dari segi budaya dan skill. Kami juga sedang banyak melakukan banyak pelatihan," ungkapnya.

Baca juga: Kecerdasan Buatan Kalahkan Manusia di Pertandingan Dota 2

Microsoft sendiri telah melakukan beberapa cara untuk membantu meningkatkan adopsi AI di Indoensia. Salah satunya adalah melalui program "Digital Talent Scholarship" yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tahun 2018.

Melalui program ini, Microsoft melakukan pelatihan kepada beberapa dosen dari empat kampus ternama yakni ITB, UI, UGM, dan ITS.

Ada beberapa kompetensi yang diajarkan yakni AI, Cloud Computing, Cybersecurity, Big Data, dan Bisnis Digital. Dosen-dosen ini akan memberikan pelatihan bersertifikasi kepada 1.000 mahasiswa terpilih yang diseleksi oleh Kominfo.

Rencananya, program ini akan berlanjut tahun ini dengan menargetkan 20.000 peserta. Namun Microsoft masih enggan merinci lebih lanjut tentang program tersebut.



Close Ads X