Bukan Mengurangi, Kecerdasan Buatan Justru Menambah Pekerjaan

Kompas.com - 12/03/2019, 17:33 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence ( AI) di Indonesia masih minim. Hanya 14 persen perusahaan di Indonesia yang sudah total mengadopsi AI, menurut studi terbaru yang dilakukan Microsoft bersama dengan lembaga riset IDC.

Menurut Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee, salah satu kendalanya adalah  persepsi negatif yang menganggap AI akan mengancam pekerjaan manusia di masa mendatang. Namun menurut survei yang dilakukan, justru anggapan tersebut tidaklah benar.

Nyatanya, baik para pemimpin bisnis dan pegawai, sama-sama menganggap AI bisa menambah jenis pekerjaan, bukan malah mengurangi atau menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan tenaga manusia.

Sebesar 53 persen pegawai yang disurvei, mengaku bahwa AI membantu pekerjaan mereka lebih baik, sementara 37 persen pemimpin bisnis juga beranggapan sama.

Sementara itu, AI juga berguna untuk mengurangi pekerjaan repetitif (berulang) yang menghambat inovasi manusia. Sebanyak 28 persen pemimpin bisnis setuju akan hal tersebut dan 17 persen pegawai merasa sepakat.

Baca juga: Microsoft Sebut Implementasi AI di Indonesia Masih Minim

"Pusat dari AI adalah manusia. Teknologi AI dirancang untuk melakukan pekerjaan yang menghambat produktivitas manusia seperti pekerjaan bersifat repetitif," papar Haris dalam acara temu media di Jakatra, Rabu (12/3/2019).

Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft IndonesiaKOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma Pertiwi Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia
Sebab itulah, menurutnya dibutuhkan keterampilan yang hanya bisa dilakukan manusia seperti keberanian mengambil inisiatif serta kerjasama tim. Menurut Haris, AI berpeluang mencipatakan lahan pekerjaan baru yang saat ini belum tersedia.

Adanya pekerjaan-pekerjaan baru ini juga harus diimbangi dengan transformasi keterampilan yang dibutuhkan, baik soft skill maupun keterampilan teknologi.

"Maksud kami di sini bukan berarti keterampilan teknologi tidak penting, sama pentingnya tapi lebih banyak ke soft skill," ujarnya.

Ada tiga soft skill utama yang disebut Haris paling banyak dibutuhkan di Indonesia ke depan. Pertama adalah kepemimpinan dan manajemen, kedua adalah kewirausahaan dan ketrampilan mengambil inisiatif, dan ketiga adalah keterampilan berpikir analitis.

Sementara untuk keterampilan teknologi yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah keterampilan teknologi seperti IT dan programming.

Studi ini juga menemukan fakta bahwa mulai banyak perusahaan yang menyadari pentingnya reskliling dan training bagi karyawannya untuk menghadapi perubahan lansekap bisnis.

Untuk membantu memberdayakan karyawan, 81 persen pelaku bisnis memprioritaskan pemberdayaan keterampilan karyawan di masa depan melalui alokasi investasi. Sebagian besar perusahaan mengalokasikan investasinya pada sistem AI dan keterampilan pegawai.

Namun, dari data yang diperoleh, 48 persen pemimpin bisnis belum menerapkan rencana untuk membantu karyawannya memperoleh keterampilan yang tepat.

Sebanyak 20 persen merasa bahwa karyawannya tidak tertarik mengembangkan keterampilan baru. Padahal data menunjukkan, hanya 2 persen karyawan saja yang tidak tertarik memperoleh keterampilan baru.




Close Ads X