Presiden AS Tuding Google Bantu Militer China

Kompas.com - 18/03/2019, 18:17 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi isyarat ketika dia menyampaikan pidato kenegaraan atau State of the Union di US Capitol, Washington DC, Selasa (5/2/2019). (AFP/SAUL LOEB) Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi isyarat ketika dia menyampaikan pidato kenegaraan atau State of the Union di US Capitol, Washington DC, Selasa (5/2/2019). (AFP/SAUL LOEB)

KOMPAS.com - Google membantah tudingan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan perusahaan search engine raksasa tersebut bekerja sama dengan militer China.

Tudingan tersebut disampaikan Trump melalui akun resmi Twitter miliknya di handle @realDonaldTrump.

"Google membantu China dan militernya, tapi tidak membantu AS. Mengecewakan! Berita baiknya, mereka membantu si Pembohong Hillary Clinton, bukan Trump, dan bagaimana nanti hasilnya?", tulis Trump.

Google pun merespon kicauan sang presiden dengan cepat. Melalui salah satu perwakilannya, Google menampik tuduhan Trump tersebut.

"Kami tidak bekerja sama dengan militer China, kami bekerja sama dengan militer AS, termasuk Departemen Pertahanan di beberapa area, termasuk keamanan siber, perekrutan, dan kesehatan", klaim perwakilan Google.

Tuduhan yang dilontarkan Trump bukan tanpa sebab.  Muasalnya adalah dari testimoni kepala staff gabungan, Jendral Kelautan Joseph Dunford, yang mengungkap hal senada pada sesi sebelum Kongres.

"Apa yang dilakukan Google di China, secara tidak langsung menguntungkan militer China", ujar Dunford dalam sesi dengar pendapat Komite Layanan Senat Bersenjata.

"Kami mengawasinya dengan perhatian yang besar ketika mitra industri yang ada di China, mengetahui bahwa ada benefit secara tidak langsung," imbuh Dunford.

"Sejujurnya, "tidak langsung" tidak menggambarkan penuh tentang sebenarnya yang terjadi, ini lebih kepada menguntungkan pihak militer China langsung," ujarnya, dirangkum KompasTekno dari NBC, Senin (18/3/2019). 

Google memang dirumorkan sedang mengupayakan proyek agar bisa kembali beroperasi di China setelah diblokir mulai tahun 2010. Namun proyek tersebut bukanlah proyek militer, melainkan pembuatan search engine khusus yang disesuaikan dengan aturan di China.

Proyek tersebut konon diberi nama "Project Dragonfly", yang menuai kritikan baik dari internal maupun eksternal Google.

Baca juga: Google Tutup Proyek Mesin Pencari Dragonfly

Beberapa waktu lalu, CEO Google, Sundar Pichai membantah proyek tersebut. Namun ia juga tidak menampik ada peluang untuk mempertimbangkannya di masa depan.

Secara internal, Google juga kendapat kritikan dari para pegawainya, tentang kerja samanya membuat drone citra udara atau yang disebut aebagai Project Maven.

Mereka menilai proyek tersebut bukanlah jati diri Google yang menganut motto: dont be evil (jangan berbuat jahat).

Baca juga: Google Hapus Moto Jangan Jahat bagi Karyawan

Motto tersebut merupakan pedoman Google bahwa teknologi seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan, bukan militer yang seringkali dianggap sebagai ancaman sipil. Akibat protes internal, Google akhirnya tidak memperbarui kontraknya dengan militer AS saat berakhir nanti.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber nbc
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X