Julian Assange Disidang karena Bobol Password, Bukan Bocorkan Rahasia Negara

Kompas.com - 12/04/2019, 12:22 WIB
Pendiri WikiLeaks Julian Assange (berjenggot) ketika digelandang keluar dari Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris, pada Kamis (11/4/2019).Ruptly via Daily Mail Pendiri WikiLeaks Julian Assange (berjenggot) ketika digelandang keluar dari Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris, pada Kamis (11/4/2019).

KOMPAS.com - Pendiri situs WikiLeaks, Julian Assange ditangkap polisi London, Inggris, di Keduataan Besar Ekuador pada Kamis (11/4/2019). Penangkapan Assange dilakukan setelah Presiden Ekuador, Lenin Moreno mencabut suaka karena Assange disebut melanggar hukum internasional.

Assange menjadi buronan nomor wahid AS setelah situs WikiLeaks yang didirikannya membocorkan ribuan arsip rahasia militer AS, dan dokumen diplomatik pada 2010. Data tersebut diperoleh dari mantan analis intelijen militer, Chelsea Manning.

Namun, di bawah pemerintahan Barrack Obama, Assange tidak ditahan atas tuntutan membocorkan data rahasia, karena takut menjadi preseden buruk kebebasan pers. Tapi di bawah adminitrasi Donald Trump, diam-diam Assange dituntut pelanggaran yang tidak spesifik.

Jaksa penuntut di Virginia Utara tidak menuntut Assange dengan undang-undang spionase karena membeberkan rahasia negara. Ia justru dituntut telah berkonspirasi meretas jaringan komputer rahasia militer AS.

Baca juga: Internet Diputus, Julian Assange Tak Lagi Pimpin Wikileaks

Tindakan tersebut dianggap melanggar hukum karena membantu Manning melakukan decoding atau mengurai kode kata sandi, agar bisa masuk ke jaringan militer rahasia di bawah identitas lain.

"Pada atau sekitar 8 Maret 2010, Assange sepakat untuk membantu Manning membobol password yang disimpan di komputer Departemen Pertahanan AS yang terkoneksi ke Jaringan Protokol Internet Rahasia, jaringan pemerintah AS digunakan untuk dokumen dan komunikasi rahasia," tulis dokumen tuduhan terhadap Assange.

Isu bantuan Assange untuk Manning memang telah beredar tahun 2011 silam. Washington Post, dilansir dari Motherboard, memberitakan percakapan online antara Manning dan Assange, di mana Assange mengatakan "berikan ke orang-orang kita", yang artinya, diyakini merujuk ke tindakan pembobolan password.

Salah satu data yang diungkap Manning adalah video "Collateral Murder", yang menunjukkan helikopter militer AS membunuh warga sipil dan jurnalis di Irak pada 2017. Beberapa advokat memandang tuntutan ini merupakan upaya jaksa untuk menghindari protes para jurnalis.

Mereka menilai pemerintah memandang penguakan informasi adalah sebuah tindakan kriminal. Barry Pollack, pengacara Assange mengatakan bahwa jurnalis harus tetap mengawal kasus ini.

"Tuntutan terhadap Julian Assange yang diungkap hari ini adalah dakwaan konspirasi melakukan kejahatan komputer," jelas Pollack, sebagaimana KompasTekno lansir dari New York Times, Jumat (12/4/2019).

"Tuduhan faktual terhadap Assange bermula dari mendorong sumber untuk memberikan informasi kepadanya, dan berusaha melindungi identitas sumber tersebut," tambah Pollack.

Baca juga: Wikileaks Bocorkan Berbagai Alat Penyadap Milik CIA

"Jurnalis di seluruh dunia harus khawatir dengan tuduhan kriminal ini yang belum pernah terjadi sebelumnya," pinta Pollack.

Sebelum ditangkap, Assange dilaporkan telah tinggal selama tujuh tahun di Kedubes Ekuador, tempat ia mendapatkan suaka untuk menghindari ekstradisi dari Swedia. Tapi Presiden Ekuador, Lenin Moreno mengaku tak bisa lagi melindungi Assange.

Ia mengatakan bahwa Assange telah mencederai norma untuk tidak mengintervensi urusan internal negara lain. Ia pun mengaitkannya pada bocornya dokumen Vatikan sebagai bukti intervensi Assange.

"Kesabaran Ekuador telah mencapai batasnya tehadap perilaku Assange," aku Moreno.

Departemen Kehakiman AS mengatakan Assange terancam hukuman maksimal lima tahun dari tuntutan yang baru dijatuhkan ini.



Close Ads X