Facebook Bakal Didominasi Pengguna yang Meninggal Dunia

Kompas.com - 30/04/2019, 19:33 WIB
Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat. AFP PHOTO/LOIC VENANCEGambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.
|

KOMPAS.com - Dalam 50 tahun ke depan, Facebook diprediksi akan lebih banyak dihuni oleh para pengguna yang telah tutup usia.

Menurut penelitian dari University of Oxford, pada tahun 2069 mendatang jumlah kematian pengguna Facebook diprediksi akan melebihi jumlah pengguna yang masih aktif di jejaring sosial.

Menurut para akademisi, jumlah pengguna Facebook yang meninggal dunia kini tengah tumbuh pada tingkat yang sulit dibendung. Bahkan pada 2012 lalu, ada sekitar 30 juta pengguna Facebook telah tutup usia.

Saat ini, Facebook diperkirakan memiliki lebih dari dua miliar pengguna yang tersebar di seluruh dunia dan ada sebanyak 8.000 pengguna meninggal setiap harinya.

Berdasarkan statistik ini, para peneliti memperkirakan jumlah pengguna yang meninggal dapat mencapai angka setidaknya 1,4 miliar pengguna atau bahkan bisa mencapai 4,9 miliar di akhir abad ini.

Di sisi lain, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan jumlah pengguna Facebook juga tengah melambat. Jika suatu saat Facebook tak lagi memiliki pengguna baru, maka jejaring sosial ini tak lain akan menjadi sebuah "kuburan digital" bagi para pengguna.

Dikutip KompasTekno dari Sky News, Selasa (30/4/2019), meski sepintas terdengar menyeramkan, akademisi Carl Ohman yang terlibat dalam penelitian ini justru lebih menyoroti soal hak kepemilikan data serta warisan digital dari pengguna yang telah tutup usia.

David Watson, akademisi yang juga terlibat penelitian ini mengatakan bahwa Facebook harus dapat mengelola dan memastikan data digital tersebut bukan hanya digunakan untuk kepentingan iklan semata.

Baca juga: Ini Cara Facebook Supaya Akun Pengguna yang Meninggal Tak Bikin Sedih

Warisan digital yang ditinggalkan pengguna tersebut juga dapat digunakan untuk memahami sejarah serta kehidupan mereka di masa lampau.

"Facebook harus mengundang sejarawan, ahli arsip, arkeolog, dan ahli etika untuk berpartisipasi dalam proses kurasi dalam volume besar dari akumulasi data yang ditinggalkan saat meninggal," kata Watson.

"Ini bukan hanya tentang menemukan solusi yang akan berkelanjutan untuk beberapa tahun ke depan, tetapi mungkin selama beberapa dekade ke depan," pungkasnya.

Baca juga: Drama di Balik Hengkangnya Dua Pendiri Instagram dari Facebook

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X