Masih Sedikit Sarjana TI Indonesia yang Jadi "Programmer"

Kompas.com - 15/05/2019, 21:07 WIB
Ilustrasi programmer.Istimewa Ilustrasi programmer.

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia berambisi menjadi negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2025 mendatang. Namun jumlah programmer yang ada saat ini disebut masih belum memenuhi kebutuhan.

Meski jumlah lulusan pendidikan vokasi maupun sarjana teknologi informatika (TI) di Indonesia cukup banyak, namun tidak sepenuhnya terserap ke industri digital dan menjadi seorang programmer.

"Saya mengidentifikasi ada tiga masalah, yang pertama adalah kurikulum," jelas CEO startup developer lokal, Dicoding, Narenda Wicaksono di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Naren itu, butuh waktu empat tahun bagi perguruan tinggi  untuk memperbarui kurikulum, hal itu disebutnya terlalu lama, sementara teknologi berkembang sangat cepat.

Dengan kondisi kurikulum yang kurang fleksibel tersebut, Naren mengatakan agak sulit menyesuaikan perkembangan dunia digital yang tiap tahun selalu berkembang.

Baca juga: Katie Bouman, Programmer Wanita di Balik Foto Black Hole

Kualitas pengajar TI yang belum merata juga menjadi masalah berikutnya yang harus dibenahi. Menurut Naren, masih banyak pengajar TI yang harus meningkatkan kompetensinya agar transfer ilmu ke mahasiswa lebih maksimal.

Sementara itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi masalah berikutnya. Naren mengatakan, kualitas input SDM di Indonesia juga belum merata.

"Di Indonesia, belajar logika itu belum menjadi kewajiban, karena kebanyakan masih menggunakan sistem hafalan. Sehingga input fundamental rata-rata belum punya standar yang dibutuhkan untuk melewati kelas programming secara penuh," lanjutnya.

Ketiga kendala di atas membuat ketimpangan antara kebutuhan programmer di perusahaan saat ini dan jumlah programmer yang siap dan sesuai kompetensi.

56 persen

Hal itu pun diamini oleh Erma Susanti, dosen TI di Institut Sains dan Teknologi AKPRIND, Yogyakarta. Erma menambahkan selain ketiga hal tadi, kurangnya motivasi mahasiswa juga menjadi kendala.

CEO Dicoding, Narenda Wicaksono di acara jumpa media di Jakarta, Rabu (15/5/2019).KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma Pertiwi CEO Dicoding, Narenda Wicaksono di acara jumpa media di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

"Sekitar 30 persen saja (mahasiwa yang punya motivasi belajar TI). Ya itu, jurusan TI itu dipikirnya cuma belajar komputer, animasi atau apa, eh ternyata di dalam belajar pemrograman, di luar ekspektasi, tapi sudah terlanjur masuk kulilah dan susah keluar," papar Erma.

Menurut survei Dicoding tentang demografi developer Indonesia, hanya 56 persen lulusan TI yang berkarir sebagai developer di perusahaan. Sisanya kebanyakan bekerja sebagai developer lepas.

Halaman:



Close Ads X