Bos Telegram Sebut WhatsApp Tidak Akan Pernah Aman

Kompas.com - 17/05/2019, 11:46 WIB

Baca juga: Mengapa Aplikasi Telegram Disukai Teroris?

Durov menambahkan, memang sulit membuat aplikasi komunikasi yang aman di AS.  Ia mengisahkan saat timnya berada di AS selama satu pekan pada tahun 2016 silam, FBI sudah tiga kali mencoba melakukan infiltrasi ke mereka.

"Saya paham, agen kemanan menyetujui adanya 'pintu belakang' sebagai upaya anti-teror. Masalahnya, pintu tersebut juga bisa digunakan oleh penjahat dan pemerintah yang otoriter," jelas Durov.

"Tidak heran bila diktator menyukai WhatsApp. Lemahnya kemanan memungkinkan mereka untuk mengintai warganya sendiri, jadi WhatsApp bisa bebas digunakan di negara-negara seperti Rusia dan Iran, di mana Telegram dilarang oleh pemerintah," lanjutnya.

Baca juga: WhatsApp Tumbang, Telegram Kebanjiran Pengguna Baru

Telegram yang asal Rusia memang berulangkali cek-cok dengan pemerintah negeri tersebut karena memiliki sistem enkripsi yang sangat kuat. Mereka enggan memberikan kunci enkripsi pada kepolisian Federal di Rusia untuk kepentingan pelacakan terorisme di sana.

Akhirnya, Rusia pun memblokir aplikasi hasil karya anak bangsanya sendiri pada tahun 2018.

Telegram sempat mendulang banyak user baru ketika Facebook, WhatsApp, dan Instagram tumbang secara bersamaan beberapa waktu lalu. Mereka mengklaim jumlah pengguna melonjak hingga 3 juta dalam waktu 24 jam saja.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X