Medsos Diminta Wajibkan Nomor Ponsel untuk Buka Akun, Apa Kata Facebook?

Kompas.com - 24/06/2019, 19:08 WIB
Layanan media sosial yang dimiliki Mark Zuckerberg yaitu Instagram, WhatsApp, dan Facebook. KompasTeknoLayanan media sosial yang dimiliki Mark Zuckerberg yaitu Instagram, WhatsApp, dan Facebook.
Penulis Bill Clinten
|
Editor Oik Yusuf

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa hari lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, meminta sejumlah platform media sosial membuat sistem keamanan yang mewajibkan pengguna membuka akun media sosial dengan mendaftarkan nomor ponsel.

Meski tak disebut secara rinci, Facebook yang merupakan media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di Indonesia bisa jadi merupakan salah satu medsos yang dimaksud oleh Rudiantara.

Baca juga: Menkominfo Minta Media Sosial Wajibkan Nomor Ponsel untuk Buka Akun

Ketika dimintai tanggapan, pihak Facebook Indonesia enggan mengomentari permintaan dari Menkominfo tersebut.

Seorang juru bicara Facebook Indonesia hanya mengatakan bahwa selama ini pihaknya sudah menyediakan opsi bagi pengguna untuk memasukkan nomor telepon, walaupun tidak bersifat wajib.

"Kalau pencantuman nomor ponsel itu memang sudah diterapkan sebagai opsi saat mendaftar akun," ujar sang juru bicara Facebook Indonesia.

Keterangan di laman Facebook menyebutkan bahwa calon pengguna bisa membuat akun baru dengan berbekal informasi nama, password, tanggal lahir, gender, berikut alamat e-mail atau nomor ponsel.

Baca juga: Bos Facebook Minta Bantuan Pemerintah untuk Atur Media Sosial

Adapun nomor ponsel dalam hal ini digunakan oleh Facebook untuk keperluan sekuriti, yakni verifikasi identitas pemilik akun. “Untuk two-factor authentication,” tutup sang juru bicara Facebook Indonesia.

Sebelumnya, Menkominfo Rudiantara mengaku sudah melayangkan surat permintaan ke beberapa media sosial terkait aturan membuka akun media sosial dengan nomor ponsel. Hal ini dilakukan untuk mengurangi peredaran kabar hoaks lewat media sosial.

Rudiantara juga meminta media sosial untuk menggunakan teknologi AI serta machine learning untuk mendeteksi kabar hoaks dengan cepat.

"Itu bisa mencari dengan cepat. Kita tidak perlu lagi mencari, baru lapor. Harusnya mereka bisa melakukan deteksi dini dengan menggunakan AI dan machine learning," tutur Rudiantara kala itu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X