DATA CENTER

Main Game Online Sering Lemot? Mungkin Ini Sebabnya…

Kompas.com - 20/09/2019, 09:03 WIB
Head Digital Services and Software - Secure Power Schneider Electric, Chi Sen Gay dalam acara Life at the Edge di Sands Expo & Convention Center, Singapura, Kamis (19/9/2019). KOMPAS.com/ALEK KURNIAWANHead Digital Services and Software - Secure Power Schneider Electric, Chi Sen Gay dalam acara Life at the Edge di Sands Expo & Convention Center, Singapura, Kamis (19/9/2019).
|
Editor Latief

SINGAPURA, KOMPAS.com – Potensi industri game online tampaknya akan semakin tumbuh seiring perkembangan dunia teknologi yang kian masif.

Demikian diungkapkan Head Digital Services and Software Secure Power Schneider Electric, Chi Sen Gay, di acara Life at the Edge di Sands Expo & Convention Center, Singapura, Kamis (19/9/2019).

"Setelah era playstation memudar, sekarang game online menjadi magnet baru bagi generasi muda saat ini," ujar Chi Sen Gay.

Dilihat dari perspektif data center, lanjut Chi, pertumbuhan game online yang sangat masif itu laksana pisau bermata dua, meski game online punya banyak kemudahan untuk dimainkan.

Baca juga: Schneider Electric Nilai Pasar Asia Prospektif

Bermodalkan telepon pintar dan jaringan internet, game online sudah bisa dinikmati oleh banyak orang. Namun, seiring bertambahnya pengguna game online, kemungkinan game tersebut down juga semakin besar.

"Saat bermain terkadang ada momen di mana game tersebut macet, bahkan mati secara tiba-tiba. Inti dari permasalahan tersebut ada pada sistem cloud yang menaungi data game," jelas Chi.

Chi mengatakan, cloud merupakan sistem komputasi tak terlihat yang berbasis seperti layaknya awan. Fungsi dari cloud ini untuk menyimpan dan mengolah data secara real time. Memang, cloud merupakan sistem terpadu dalam pengolahan data, tetapi sifatnya terbatas.

Baca juga: Schneider Klaim Bisa Pangkas Konsumsi Listrik Gedung 30 Persen

" Cloud digunakan oleh banyak user sehingga bila digunakan secara bersamaan akan mengurangi kecepatan pembacaan data," terang Chi.

Adapun solusi dari kendala tersebut, ungkapnya, adalah memanfaatkan sistem komputasi Edge dengan cara desentralisasi cloud dan menyebar kapasitasnya.

"Desentralisasi berarti tidak terpusat sehingga data yang dikelola oleh satu cloud dengan cloud lainnya tidak tabrakan. Penyimpanan dan pengelolaan data game pun menjadi lebih ringan. Alhasil, game yang dimainkan akan terhindar dari masalah laging," jelasnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X