Bocoran Dokumen Ungkap Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan Lion Air JT610

Kompas.com - 24/09/2019, 15:55 WIB
Lion Air B737 MAX 8 PK-LQP di pabrik Boeing di Seattle, (13/8/2018). BOEING/Paul C GordonLion Air B737 MAX 8 PK-LQP di pabrik Boeing di Seattle, (13/8/2018).
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) harus merilis laporan investigasi kecelakaan Boeing 737 Max 8 Lion Air penerbangan JT610 pada 29 Oktober 2019, atau satu tahun setelah kecelakaan yang menewaskan 189 penumpang dan kru itu.

The Wall Street Journal mengklaim telah mendapatkan bocoran draft laporan akhir KNKT. Menurut bocoran dokumen laporan, tim investigasi Indonesia menunjuk faktor desain pesawat dan kesalahan pengawasan yang memegang peranan penting dalam kecelakaan tersebut.

Faktor-faktor lain yang disebut turut berkontribusi adalah hubungan antara pilot error dan kesalahan pemeliharaan pesawat.

Baca juga: Ini Fitur yang Dirahasiakan Boeing, Berkontribusi pada Kecelakaan Lion Air JT610?

Namun detail laporan akhir kecelakaan B737 Max Lion Air penerbangan JT610 di atas masih bisa berubah dan akan dianalisa lebih lanjut. KNKT menolak berkomentar saat dimintai keterangan soal bocoran ini.

KNKT hanya mengatakan bahwa laporan hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT610 akan dirilis pada awal November 2019 mendatang.

Pilot kurang pengalaman?

Sementara KNKT bersiap merilis laporan investigasi kecelakaan Lion Air JT610, The New York Times Magazine juga menerbitkan analisa mereka sendiri pada Rabu (18/9/2019) lalu.

Analisis tersebut dibuat oleh William Langewiesche, jurnalis kawakan yang juga seorang pilot.

Menurut Langewiesche, faktor bisnis penerbangan maskapai LCC membuat pilot yang masih tergolong baru menerbangi rute-rute internasional, sehingga membahayakan nyawa penumpang.

Lion Air, kata Langewiesche, merekrut pilot-pilot yang kurang berpengalaman, lalu membayar murah dan meminta mereka bekerja keras.

Kapten penerbangan JT610 yang jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018 lalu adalah seorang berkebangsaan India berumur 31 tahun, yang disebut terlalu dini menjadi pimpinan penerbangan, dibandingkan dengan maskapai-maskapai lain.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X