Alasan Huawei Tak Jual Ponsel Mate 30 di Indonesia

Kompas.com - 14/11/2019, 20:27 WIB
Kiri-kanan: Edy Supartono, Training Director Huawei CBG; Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei CBG di acara peluncuran Huawei Mate 30 Pro di Jakarta, Kamis (14/11/2019). 
KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma PertiwiKiri-kanan: Edy Supartono, Training Director Huawei CBG; Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei CBG di acara peluncuran Huawei Mate 30 Pro di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat diluncurkan di Munich, Jerman, pertengahan September lalu, Huawei meluncurkan dua varian Mate 30. Selain versi reguler (tanpa Pro), mereka juga merilis Mate 30 Pro dalam berbagai varian warna.

Namun, hanya Huawei Mate 30 Pro varian warna Space Silver saja yang dipasarkan Huawei di Tanah Air. Huawei memilih tidak membawa Mate 30 reguler ke pasar Indonesia. Hal itu pun bukan tanpa alasan.

"Itu salah satu strategi kita. Dengan situasi Huawei seperti sekarang kami harus manage pasar dan ekspektasi, terutama untuk partner kita nanti," jelas Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei CBG Indonesia saat ditemui usai peluncuran Mate 30 Pro di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Huawei mengaku tidak ingin gegabah dengan strategi pemasaran smartphone flagshipnya di tengah kondisi serba terbatas. Seperti diketahui, pertengahan tahun lalu Huawei masuk ke dalam entity list pemerintah Amerika Serikat.

Baca juga: Tanpa Google, Huawei Mate 30 Pro Bisa Akses Aplikasi Ojek Online dan E-commerce?

Dengan demikian, Huawei tidak bisa berbisnis dengan perusahaan asal AS, termasuk Google, produsen software Android yang selama ini menjadi basis utama smartphone Huawei.

Huawei Mate 30 Pro. Layar ponsel ini melengkung di sisi kiri dan kanan, berbeda dari Mate 30 yang hanya rata. Bagian poni di Mate 30 Pro juga lebih lebar karena memuat lebih banyak komponen, termasuk pendeteksi gestur tangan. KOMPAS.com/ OIK YUSUF Huawei Mate 30 Pro. Layar ponsel ini melengkung di sisi kiri dan kanan, berbeda dari Mate 30 yang hanya rata. Bagian poni di Mate 30 Pro juga lebih lebar karena memuat lebih banyak komponen, termasuk pendeteksi gestur tangan.
Menurut Khing Seng, semakin sedikit model yang hadir akan mudah bagi Huawei untuk memasarkannya di Indonesia.

Utamanya untuk sosialisasi Huawei Mobile Service (HMS), pengganti Google Mobile Service (GMS), yang menyebabkan aplikasi populer Google tidak bisa diakses secara instan. Huawei ingin memastikan pengalaman pengguna dengan HMS bisa maksimal lebih dulu.

"Semakin banyak line up yang di-handle, semakin kompleks dan semakin banyak risiko. Kami juga harus menjaga bagaimana mitra kami bisa berbisnis dengan sehat," imbuhnya.

Baca juga: Janji Huawei untuk Menarik Pengembang ke Toko Aplikasinya

Dipilihnya versi "Pro" ketimbang versi reguler juga memiliki pertimbangan tersendiri. Huawei menilai, masyarakat Indonesia di segmen menengah ke atas lebih mengutamakan teknologi yang ditawarkan ketimbang harga.

"Jadi kalau kita bawa yang tanggung-tanggung malah enggak dilihat," katanya.

Kendati demikian, Khing Seng tidak menutup kemungkinan masuknya model lain ke Indonesia apabila situasi sudah terkendali.

Khing Seng pun tidak muluk-muluk mematok target penjualan Mate 30 Pro dengan situasi seperti ini. Ia hanya berharap penjualannya tidak akan jauh dengan seri Mate 20 tahun lalu, tanpa menyebutkan detail angkanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X