Masih Ada Kesenjangan 4G antara Kota dan Desa di Indonesia

Kompas.com - 17/11/2019, 12:11 WIB
Ilustrasi pengguna ponsel. Getty ImagesIlustrasi pengguna ponsel.

KOMPAS.com - Jaringan seluler 4G LTE sudah hadir di Indonesia sejak akhir 2014. Namun, ketersediaannya masih belum merata di semua daerah. Antara perkotaan dan desa, misalnya, masih ada kesenjangan soal koneksi 4G.

Menurut data terbaru dari perusahaan riset jaringan mobile, OpenSignal, daerah perkotaan berpenduduk padat di Indonesia lebih mudah menjangkau jaringan internet 4G ketimbang daerah pedesaan yang penduduknya lebih sedikit.

OpenSignal mengunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengklasifikasi daerah-daerah berdasarkan kepadatan penduduk.

Baca juga: Ketersediaan 4G di Indonesia Tinggi, Tapi Kecepatannya Rendah

Hasilnya, daerah perkotaan berpenduduk lebih dari 1.000 jiwa per kilometer persegi mendapatkan koneksi 4G sebanyak 89,7 persen dari total waktu terhubung ke jaringan (ketersediaan, availability 4G).

Sementara daerah berpenduduk paling jarang, yakni 50 jiwa per kilometer persegi, hanya bisa menjangkau 4G hingga 76 persen dari total waktu terhubung ke jaringan. Selisih kedua jenis daerah mencapai 13 persen.

Apabila angka availability 3G dan 4G digabungkan, maka selisih antara daerah kota dan desa berkurang menjadi 10,3 persen, menurut penjelasan OpenSignal dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Minggu (17/11/2019).

Grafis kesenjangan koneksi jaringan 4G di Indonesia dari data yang ditemukan OpenSignal.OpenSignal Grafis kesenjangan koneksi jaringan 4G di Indonesia dari data yang ditemukan OpenSignal.

Di perkotaan perpenduduk padat, pelanggan seluler terhubung ke layanan 3G atau 4G sebanyak 96,3 persen dari total waktu koneksi. Untuk desa dengan penduduk lebih jarang, angkanya berkisar di 86 persen.

OpenSignal mengatakan bahwa pemerataan teknologi seluler bukan hanya perkara teknis, tapi juga ekonomi. Sebab, secara bisnis, operator seluler akan lebih mengutamakan jaringan di daerah perkotaan yang padat penduduk karena lebih menguntungkan secara komersil.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia juga ditemukan kesenjangan availability teknologi seluler yang lebih kurang sama antara kota dan desa.

Baca juga: Telkomsel Unggul di Kecepatan, Smartfren Pimpin Ketersediaan 4G

Posisi Indonesia dalam hal ini sebenarnya masih lebih baik dibanding dua negara itu. Di Filipina, kesenjangan availability 4G antara perkotaan dan pedesaan mencapai 14 persen. Di Malaysia bahkan mencapai 40 persen, menurut OpenSignal.

Kabar baik lainnya, OpenSignal mengatakan jaringan 3G di Indonesia sudah semakin matang. Teknologi 4G pun sudah banyak memfasilitasi pengguna smartphone.

Turut disebutkan bahwa sebanyak 95 persen populasi menggunakan ponsel untuk mengakses internet. Hal ini didorong oleh investasi jaringan yang strategis dan refarming frekuensi (800 MHz dan 900 MHz), didukung pula oleh strategi spektrum dan kebijakan investasi pemerintah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X