ITU Umumkan Tambahan Frekuensi untuk Jaringan 5G Global

Kompas.com - 29/11/2019, 15:51 WIB
Ilustrasi jaringan 5G IstIlustrasi jaringan 5G
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Dalam ajang World Radiocomunications Conferences (WRC) 2019 yang digelar di Mesir beberapa hari lalu, International Telecomunication Union (ITU) menetapkan sejumlah putusan terkait pemanfaatan jaringan 5G di seluruh dunia.

Salah satu putusan yang dibuat dalam konferensi yang dihadiri 3.400 delegasi dari 165 negara anggota tersebut adalah adanya penambahan pita frekuensi serta rekomendasi frekuensi di milimeter wave untuk menggelar jaringan 5G.

Ditetapkan bahwa penambahan pita frekuensi untuk jaringan 5G diberikan pada 24,25 GHz sampai 27,5 GHz, 37 Ghz sampai 43,5 GHz, 45,5 Ghz sampai 47 GHz, 47,2 GHz sampai 48,2 GHz, serta 66 Ghz sampai 71 GHz.

Baca juga: Telkomsel Uji Video Call Menggunakan Jaringan 5G di Batam

Menurut Mario Maniewicz, Direktor Biro Komunikasi Radio ITU, keputusan ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat di dunia dan menciptakan lanskap digital untuk pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Dihimpun KompasTekno dari Spatialsource, Jumat (29/11/2019), Mario juga mengatakan, hasil dari WRC 2019 ini akan membuka jalan yang lebih inovatif untuk menghubungkan dunia dengan menggunakan teknologi komunikasi.

Tiga lapisan frekuensi untuk 5G di Indonesia

Lantas apa pengaruh rekomendasi ITU ini pada jaringan 5G di Indonesia?

Di Indonesia sendiri, untuk dapat memberikan layanan jaringan 5G yang optimal, operator seluler setidaknya membutuhkan tiga layer frekuensi yakni lower band, middle band, dan upper band.

Baca juga: Kominfo Ungkap Tiga Opsi Frekuensi untuk 5G di Indonesia

Menurut Dirjen SDPPI Kementerian Kominfo, Ismail, Indonesia sudah memiliki opsi frekuensi dalam setiap layer tersebut. Seluruhnya telah masuk dalam rekomendasi ITU, termasuk untuk tambahan frekuensi baru.

Di sela-sela acara uji coba jaringan 5G Telkomsel di Batam, Kamis (28/11/2019), Ismail mengatakan bahwa Indonesia memiliki dua opsi frekuensi pada lower band yaitu 700 MHz dan 800 MHz.

Sampai saat ini frekuensi 700 MHz masih digunakan untuk TV analog sehingga pemerintah harus menunggu sampai TV analog bermigrasi menjadi digital. Sementara pada frekuensi 800 MHz saat ini masih digunakan untuk menggelar jaringan 4G oleh operator.

Kemudian ada pula dua opsi pada middle band, yaitu frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz. Saat ini kedua frekuensi tersebut masih digunakan untuk koneksi satelit.

Baca juga: Menkominfo Johnny Plate Komentari Persiapan 5G di Indonesia

Pada layer upper band, Indonesia memiliki frekuensi di 26 GHz. Frekuensi ini sesuai dengan rekomendasi frekuensi tambahan dari ITU yaitu pada 24,25 GHz sampai dengan 27,5 GHz.

Ismail mengatakan bahwa frekuensi tersebut sudah kosong dan siap untuk digunakan. Ia pun menilai frekuensi 26 GHz tersebut juga sudah memiliki ekosistem yang baik dan didukung oleh banyak vendor teknologi.

"Di upper band sudah tersedia opsi 26 GHz, itu sudah free. Siap untuk kita luncurkan dan sudah banyak vendor yang support ekosistem di sana," ungkap Ismail.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X