Mengenal Alphabet, Induk Google yang Dipimpin Sundar Pichai

Kompas.com - 04/12/2019, 20:42 WIB
Ilustrasi Google di ponsel ForbesIlustrasi Google di ponsel
|

KOMPAS.com - Tahun 2015 lalu, Larry Page dan Sergey Brin memutuskan untuk melakukan restrukturisasi pada Google. Kedua pendiri Google ini kemudian mendirikan sebuah perusahaan baru yang lebih besar bernama Alphabet.

Alphabet dijadikan sebagai perusahaan dengan kedudukan yang lebih tinggi. Ia menjadi induk perusahaan Google dan sejumlah perusahaan besar lainnya.

Dengan dibentuknya Alphabet, Larry Page yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Google menempati posisi puncak di Alphabet. Kursi CEO Google pun kemudian diberikan kepada Sundar Pichai.

Namun pucuk kepemimpinan pun berganti lagi. Larry Page menyatakan mundur dari jabatannya dan kini Sundar Pichai menjadi CEO Alphabet sekaligus CEO Google.

Baca juga: Mengenal Sundar Pichai, Orang Nomor Satu di Google dan Alphabet

Alphabet menaungi sejumlah perusahaan besar. Tak hanya fokus pada bidang internet, perusahaan tersebut juga fokus pada hal lain seperti salah satunya bidang teknologi kesehatan.

Salah satu perusahaan yang punya fokus pada bidang kesehatan adalah Life Siciences. Perusahaan ini membuat sebuah lensa kontak mata yang dapat mendeteksi glukosa.

Kemudian ada pula Calico, perusahaan di bawah naungan Alphabet ini melakukan sejumlah riset tentang penuaan.

Untuk perusahaan yang berhubungan dengan teknologi internet, Alphabet menaungi Fiber. Google, Google Ventures, Google Capital, Google X, serta Nest.

Baca juga: Larry Page Mundur, Sundar Pichai Jadi CEO Perusahaan Induk Google

Fiber, sesuai dengan namanya, adalah perusahaan yang menyediakan internet berkecepatan tinggi. Kemudian Google X bertugas mengembangkan balon internet Google Loon dan kacamata pintar Google Glass.

Sementara Nest, adalah perusahaan teknologi yang membuat perkakas rumah tangga seperti alarm asap, kamera pengawas, dan perangkat yang terkoneksi lainnya.

Lantas mengapa Google harus memiliki perusahaan induk?

Analis Christina Warren dan Seth Fiegermen membuat sebuah analisis. Menurut mereka, dengan beragam pengembangan yagn dilakukan oleh Google, tiap unit bisnis tak lagi bisa dikelola dalam satu payung.

Bisnis-bisnis yang sudah mapan atau tengah menuju kemapanan seperti Search, Advertising, Maps, Apps, YouTube dan Android, tentu membutuhkan "kepala" yang tahu betul memelihara kemapanan tersebut.

Selain itu, restruturisasi ini juga dilakukan untuk mempertahankan talenta-talenta Google sebelum dibajak perusahaan lain.

Dengan bisnis baru, Google dan Alphabet harus mengkaji ulang struktur perusahaan dan ada divisi-divisi yang ditambahkan sehingga dibutuhkan pimpinan-pimpinan baru.

Artinya, pegawai Google akan menjabati posisi-posisi menjanjikan. Perusahaan lain pun akan lebih susah merayu pegawai-pegawai Google kompeten untuk pindah.

Baca juga: 19 Kata yang Hanya Dimengerti oleh Karyawan Google

Kendati demikian, Alphabet juga diterpa isu negatif. Perusahaan induk Google ini dicurigai dibentuk untuk menghindari pajak di AS.

Dikutip KompasTekno dari berbagai sumber, Rabu (4/12/2019), meski begitu bisnis pencarian internet, Android, YouTube, serta iklan-iklan yang tampil tetap menjadi bagian dari Google.

Sebagai perusahaan induk, Alphabet berhak atas semua saham Google yang ada di bursa saham. Saham Alphabet tetap dipasarkan dengan kode yang sama seperti sebelumnya yakni GOOG dan GOOGL.

Baca juga: Berapa Penghasilan CEO Google?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X