Kabel Serat Optik di Samudera Pasifik, "Medan Perang" Baru AS-China?

Kompas.com - 16/12/2019, 19:28 WIB
Ilustrasi kabel optik bawah laut. Istimewa.Ilustrasi kabel optik bawah laut.

Pasar kabel serat optik saat ini didominasi perusahaan AS, Eropa, dan Jepang. Namun China perlahan-lahan mulai merangsek dengan menginvestasi beberapa proyek kabel bawah laut.

Baca juga: Operator Seluler AS Dilarang Beli Perangkat Huawei dengan Dana Subsidi

China pernah terlibat dalam proyek Pacific Light Cable Network (PLCN). Sekilas informasi, PLCN merupakan kabel bawah laut pertama yang menghubungkan Los Angeles dan Hong Kong dengan bentang kabel 12.800 km.

Projek ini merupakan kolaborasi antara Google, Facebook, dan Pacific Light Data Communication Co. Ltd yg berbasis di Hong Kong. Salah satu investor China, yakni Dr. Peng Telecom & Media Group Co diketahui ikut menyokong proyek ini.

Sayangnya, proyek ini harus dihalangi oleh pemerintah AS pertengahan tahun lalu.

"Pengadilan AS tidak mengomentari penilaian pengajuan yang sedang berlangsung, yang telah dirujuk ke FCC perihal masalah keamanan dan penegakan hukum nasional yang didanai atau dikontrol asing," kata Marc Raimondi, juru bicacara kemanan nasional dari Kementerian Kehakiman AS, dikutip dari Reuters.

Craige Sloots, Director Sales Southern Cross Cable Network, perusahaan independen yang telah mengoperasikan kabel bawah laut terbesar di trans-pasifik, mengatakan regulator AS memang lebih ketat soal siapa saja yang terlibat dalam projek infrastruktur bawah laut, terutama yang akan terhubung ke AS.

Salah satu pengamat di Hong Kong mengatakan, Hong Kong sebelumya dianggap sebagai titik pendaratan kabel laut yang aman ketimbang China. Tapi melihat kerusuhan yang belakangan terjadi Hong Kong, penilaian itu mulai diragukan.

Sekutu AS ikut Menghambat

Seperti AS, sekutunya juga melakukan hal yang sama. Australia misalnya, buru-buru mencegah proyek kerja sama Solomon Islands Submarine Cable Company dengan Huawei, yang menghubungkan kabel bawah laut antara Sydney, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini.
Kabel itu akan ditanamkan di awah Laut Koral.

Baca juga: Kabel Optik Palapa Ring Akan Diulur di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Pada awalnya, Solomon Islands Submarine Cable Company sepakat bekerja sama dengan Huawei pada tahun 2017.

Namun, pemerintah Australia, segera menyumbang 67 juta dollar AS untuk proyek tersebut dan mengalihkannya ke Alcatel yang diakuisisi Nokia 2016 lalu, sebagai vendor baru proyek ini.

Selain Huawei, perusahaan telekomunikasi, China Unicom juga disebut memiliki akses ke banyak kabel trans-pasifik yang tersedia saat ini, dirangkum KompasTekno dari South China Morning Post, Senin (16/12/2019).

Perang bawah laut ini belum setegang perang dagang di permukaan. Tapi dampaknya bisa memperlama resolusi konflik kedua negara, dan tentu saja memengaruhi kestabilan ekonomi secara global.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X