Terjadi Lagi, Ratusan Juta Nomor Telepon Pengguna Facebook Bocor di Internet

Kompas.com - 23/12/2019, 07:07 WIB
Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat. AFP PHOTO/LOIC VENANCEGambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Facebook kembali tersandung masalah keamanan data. Kali ini, sebanyak lebih dari 267 juta nomor telepon dan nama pengguna (user ID) Facebook bocor di dunia maya.

Kebocoran data ini pertama kali ditemukan oleh firma keamanan siber Comparitech yang bekerja sama dengan peneliti keamanan siber, Bob Diachenko.

Berdasarkan temuan mereka, nomor telepon dan nama pengguna Facebook ini telah dikumpulkan ke dalam sebuah database yang dapat diakses dengan mudah. 

Data-data ini kemudian disebar ke dalam forum tempat berkumpulnya para hacker.

Meskipun sejatinya cukup banyak pengguna yang memang dengan sengaja menaruh nomor telepon mereka di halaman profil Facebook, database ini akan mempermudah para pelaku kejahatan spam dan pishing.

Para peneliti belum mengetahui dengan jelas bagaimana database ini dibuat. Ada kemungkinan bahwa data-data pengguna ini dikumpulkan lewat metode ilegal yang disebut dengan scraping.

Metode ini dilakukan peretas dengan cara menyalin data-data yang ada di internet, dalam hal ini, nomor telepon nama pengguna disalin langsung dari halaman profil Facebook.

Ada pula dugaan bahwa data tersebut dikumpulkan melalui API Facebook, yakni sebuah protokol yang memungkinkan aplikasi pihak ketiga untuk mengakses informasi milik pengguna.

Pada tahun 2018 lalu, setelah terungkapnya skandal Cambridge Analytica, Facebook memperketat akses informasi yang diberikan kepada aplikasi pihak ketiga.

Baca juga: Tak Percaya Google, Facebook Bikin OS Pengganti Android

Sehingga, jika benar data tersebut dikumpulkan melalui API Facebook, maka data-data itu seharusnya telah dikumpulkan sebelum tahun 2018 ketika kebijakan baru ditetapkan.

Dikutip KompasTekno dari Mashable, Senin (23/12/2019), meski belum diketahui siapa pelakunya, para peneliti meyakini bahwa database tersebut dibuat dan disusun oleh pelaku di Vietnam.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Mashable
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X