Bisakah Kamera Smartphone Menggantikan DSLR Seperti Kata Xiaomi?

Kompas.com - 07/01/2020, 14:39 WIB

Semakin besar ukuran sensor, semakin besar pula ukuran masing-masing fotodioda (piksel) penangkap cahaya dan semakin bagus pula kualitas gambar. Ukuran sensor pula yang menyebabkan DSLR dan mirrorless bisa menghasilkan blur atau bokeh yang kentara.

Namun bukan berarti hasil jepretan smartphone bisa diremehkan. Seperti yang dikatakan oleh Lucky, para pabrikan smartphone mengatasi keterbatasan secara hardware lewat teknik software.

Baca juga: Mengamati Perkembangan Pesat Kamera Ponsel dalam Satu Dekade Terakhir

Pixel binning menggabungkan empat piksel menjadi satu untuk meningkatkan kualitas gambar. Computational photography memungkinkan mode-mode khusus seperti Night Mode dan Smart HDR yang kadang jepretannya mampu mengalahkan DSLR dalam kondisi tertentu.

Keterbatasan jangkauan lensa pun sebagian besar sudah teratasi dengan menerapkan banyak kamera. Perspektif ultra wide dan telephoto bukan lagi monopoli kamera dedicated, tapi sudah banyak diterapkan di smartphone.

Lucky mengatakan, untuk sekadar memajang foto di media sosial atau menyimpannya di galeri, kemampuan kamera smartphone saat ini sudah sangat cukup mumpuni, setidaknya untuk konsumen non-profesional secara umum.

Makin lama resolusi makin tinggi

Selain jumlah kamera dan teknologi software, tren lain di industri smartphone adalah resolusi sensor yang makin lama makin tinggi. 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Samsung menjadi salah satu pendorongnya dengan  mengeluarkan sensor 48 megapiksel ISOCELL Bright GM1 pada bulan Juni 2018. Sensor ini pertama kali diadopsi oleh Redmi Note 7.

Setahun setelahnya, Samsung merilis lagi ISOCELL Bright GW1 bulan Mei 2019 dengan resolusi lebih tinggi, 64 megapiksel. Selain Samsung, Sony juga merilis IMX586, sensor beresolusi 48 megapiksel yang disusul IMX686 beresolusi 64 megapiksel.

Akhir tahun 2019, Samsung memperkenalkan sensor kamera beresolusi 108 megapiksel yakni ISOCELL Slim GH1. Peningkatan resolusi kamera smartphone ini berlangsung sangat cepat. Dalam waktu lebih kurang dua tahun, angkanya naik dua kali lipat.

Lalu, sampai kapan tren kamera smartphone dengan resolusi jumbo akan berlangsung?
Menurut Lucky, tren ini masih akan berlanjut. "Bahkan 200 megapiksel mungkin akan hadir juga," katanya.

Sensor-sensor dengan resolusi tinggi ini sebenarnya dioptimalkan untuk teknik pixel binning dengan tujuan meningkatkan kualitas gambar tadi. Karena tiap empat piksel dijadikan satu, maka resolusi akhirnya secara default pun lebih rendah.

Baca juga: Kamera 48 Megapiksel Vivo V15 Pro, Kenapa Fotonya Hanya 12 Megapiksel?

Sensor 48 megapiksel, misalnya, menghasilkan foto 12 megapiksel (48/4) dengan pixel binning. Lalu sensor 64 megapiksel menghasilkan output 16 megapiksel, dan sensor 108 megapiksel menjepret gambar 27 megapiksel.

Ke depan, Lucky memprediksi kemampuan kamera smartphone akan semakin ciamik dengan bantuan komputasi yang kian canggih. Terlebih, semakin hari, system on chip (SoC) yang dibuat juga semakin bertenaga sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan baru.

Setelah Night Mode, Portrait Mode, Smart HDR, hingga kecerdasan buatan, trik software apa lagi yang akan diterapkan para pembuat smartphone di kameranya? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X