Pendapatan Film Disebut Lebih Banyak dari "Streaming" Dibanding TV

Pendapatan Penayangan Film, Lebih Besar dari "Streaming" atau TV?

Kompas.com - 09/01/2020, 17:02 WIB
Sheila Timothy, Sutradara dan Perwakilan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) di Jakarta, Kamis (9/1/2020)
KOMPAS.com/ WAHYUNANDA KUSUMA PERTIWISheila Timothy, Sutradara dan Perwakilan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) di Jakarta, Kamis (9/1/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring berkembangnya zaman, diikuti adopsi internet yang semakin masif, industri hiburan turut berubah. Salah satunya model bisnis penayangan film yang mulai banyak meminati layanan streaming sebagai alternatif memperoleh pendapatan. 

Menurut sutradara film kenamaan Sheila Timothy, pendapatan film dari platform digital semacam Netflix saat ini menjadi terbesar kedua. Bioskop masih menduduki peringkat pertama ihwal pengembalian modal dari sebuah film.

"Bisa dikatakan 60-70 persen masih bergantung dari pengembalian modal bisokop, sisanya masih dibagi," kata wanita yang akrab dipanggil Lala ini.

Baca juga: Menkominfo Imbau Netflix Perbanyak Konten Lokal dari Indonesia

Ia tidak menyebut angka pendapatan yang diperoleh dari platform digital. Tapi menurut Lala, dalam lima hingga enam tahun terakhir pembayaran atau pembelian lisensi film oleh platform digital meningkat pesat.

Porsi platform digital ini disebutnya sudah mengalahkan pendapatan dari free to air TV atau televisi tak berbayar dan penayangan di maskapai penerbangan.

"Padahal, di 2016 televisi swasta atau televisi tak berbayar jadi penghasilan terbesar kedua setelah bisokop. Ini karena OTT (platform digital, over the top) sudah naik," katanya.

Terdongkrak kecepatan internet

Lala, yang juga aktif di Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), mengatakan ada banyak hal yang mendorong peningkatan pendapatan film dari platform digital.

Selain distribusi film yang semakin besar karena semakin banyak platform digital, meningkatnya kecepatan internet juga ikut mendongkrak.

Pengguna platform digital yang semakin banyak juga turut menyumbang peningkatan pendapatan. Netflix misalnya, salah satu platform digital populer asal Amerika ini, mengklaim saat ini memiliki 158 juta pengguna di 190 negara tempatnya beroperasi.

Meskipun platform digital kebanyakan memuat film dari berbagai negara, namun menurut Lala, sineas lokal juga punya banyak peluang besar mendistribusikan film di platform digital.

"OTT ini punya personality yang unik, dia mencari film-fim lokal untuk menarik penonton lokal," katanya. Sebab itulah, ia mencontohkan, di Netflix cukup banyak film original buatan sineas dari berbagai negara.

Baca juga: Netflix Investasi Rp 14 Miliar untuk Pengembangan Sineas Indonesia

Di Indonesia sendiri, Netflix baru saja mengumumkan kerja sama bernilai 1 juta dollar AS (sekitar 14 miliar) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membantu meningkatkan kualitas sineas lokal di kancah global.

"Justru kehadiran OTT seperti ini, memungkinkan kita untuk mengembangkan kultur dan cara bertutur kita, itu yg kita gali," ujar Lala.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X