TikTok Tambal Celah Keamanan yang Bisa Bikin Peretas Ambil Alih Akun

Kompas.com - 13/01/2020, 15:16 WIB
Angkatan Laut Amerika Serikat blokir penggunaan TikTok atas alasan keamanan cyber TechSpotAngkatan Laut Amerika Serikat blokir penggunaan TikTok atas alasan keamanan cyber
Penulis Bill Clinten
|

KOMPAS.com - Pada November 2019 lalu, firma keamanan siber, Check Point menemukan adanya celah keamanan (bug) pada aplikasi TikTok

Celah tersebut memungkinkan peretas untuk mengambil alih akun TikTok hanya dengan menggunakan tautan yang dikirimkan melalui SMS. 

Tautan tersebut dikirim ke ponsel korban melalui SMS. Jika korban mengklik tautan yang tercantum, maka peretas dapat dengan mudah mengambil alih akun TikTok sepenuhnya.

Peretas dapat melakukan apapun terhadap akun korban, seperti mengunggah video, menghapus video, hingga mengotak-atik pengaturan akun.

Namun tak butuh waktu lama bagi pihak TikTok untuk menambal celah keamanan tersebut. Sekitar awal Desember 2019 lalu, celah berbahaya tersebut telah ditambal sepenuhnya.

Hal tersebut diakui pihak TikTok baru-baru ini. Juru bicara TikTok, Luke Deshotels, mengatakan bahwa celah tersebut ditemukan pada aplikasi TikTok versi lama.

Baca juga: Setelah Angkatan Laut, Giliran Angkatan Darat AS Dilarang Pakai TikTok

"TikTok berkomitmen untuk melindungi data penggunanya. Sebelum diungkap ke publik, pihak Check Point sudah setuju bahwa semua masalah yang dilaporkan telah ditambal dalam versi terbaru dari aplikasi kami," ungkap Luke.

Meski begitu, tidak disebutkan apakah ada pengguna yang terdampak bug tersebut atau tidak.

Head of Product Vulnerability Research Check Point, Oded Vanunu, mengatakan bahwa aplikasi TikTok sejatinya merupakan sasaran empuk bagi para peretas.

Sebab, platform jejaring sosial itu, memang menyimpan jutaan, bahkan miliaran data pribadi pengguna.

Baca juga: TikTok Bantah Tudingan Jadi Mata-mata China

Adapun pengguna TikTok disebut nyaris menyentuh angka 1,5 miliar hanya dalam waktu dua setengah tahun sejak aplikasi ini dirilis di luar China.

"Peretas biasanya menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mencoba membobol aplikasi aneka aplikasi populer," tutur Oded sebagaimana dikutip KompasTekno dari TheSun, Senin (13/1/2020).

"Sayangnya, sebagian besar pengguna berasumsi bahwa data mereka tersimpan dengan aman di aplikasi tersebut (padahal tidak)," pungkas Oded.

TikTok sendiri beberapa waktu lalu tersandung masalah hukum di Amerika Serikat. Seorang mahasiswa di wilayah Palo Alto menuduh TikTok telah mengirimkan data pengguna secara diam-diam ke China.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber The Sun
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X