Boeing Sebut Lion Air "Idiot" karena Minta Training di Simulator B737 MAX

Kompas.com - 15/01/2020, 11:36 WIB
Lion Air B737 MAX 8 PK-LQP di pabrik Boeing di Seattle, (13/8/2018). BOEING/Paul C GordonLion Air B737 MAX 8 PK-LQP di pabrik Boeing di Seattle, (13/8/2018).

KOMPAS.com - Lion Air pada 2017 lalu ternyata pernah meminta Boeing agar pilot-pilotnya belajar di simulator terlebih dahulu, sebelum menerbangan B737 MAX. Namun Boeing menolak permintaan Lion Air dengan mengatakan "idiot".

Menurut Boeing, hal itu tidak diperlukan, karena fuselage (bodi pesawat) yang digunakan di varian B737 MAX, sama dengan varian 737 sebelum-sebelumnya, yang pertama kali dikenalkan Boeing sejak 1960-an.

Informasi ini didapat oleh Bloomberg dari sumber dalam yang mengetahui komunikasi perusahaan, dikutip KompasTekno, Rabu (15/1/2020).

Baca juga: Boeing Rekomendasikan Pilot 737 MAX Belajar di Simulator

Kemudian, pada 2018 lalu, B737 MAX Lion Air jatuh di Laut Jawa akibat kru pesawat tidak familiar dengan fitur kontrol penerbangan yang mengalami malfungsi.

Belakangan, setelah memperbaiki software MCAS dan mengujinya di simulator secara internal, Boeing pun merekomendasikan agar pilot-pilot mengenal karakteristik B737 MAX di simulator, sebelum menerbangkannya.

Dalam memo yang beredar di kalangan karyawan Boeing, terungkap bahwa Lion Air meminta Boeing melatih pilot-pilotnya menerbangkan B737 MAX di simulator, sebelum benar-benar menerbangkannya.

Pesan tersebut termasuk dalam dokumen 100 halaman lebih yang diserahkan Boeing ke DPR AS, dan otoritas penerbangan AS, FAA pada Kamis (9/1/2020) lalu.

"Kini Lion Air minta simulator untuk menerbangkan MAX, mungkin karena mereka yang bodoh. Sekarang aku yang jadi repot mengurusinya, dasar idiot!" tulis karyawan Boeing lewat pesan singkat pada Juni 2017.

Baca juga: Ini Fitur yang Dirahasiakan Boeing, Berkontribusi pada Kecelakaan Lion Air JT610?

Sementara B737 MAX pertama untuk Lion Air Group diketahui dikirim sebulan sebelumnya, yakni Mei 2017. Lion Air Group menjadi operator pertama B737 MAX di dunia. Pesawat itu dioperasikan oleh anak usahanya di Malaysia, Malindo Air.

Tidak dibutuhkannya training di simulator memang menjadi "bahan jualan" pabrikan pesawat, karena maskapai tidak perlu berinvestasi lebih saat mengoperasikan jenis pesawat baru.

Saat Boeing meluncurkan B737 MAX pada 2016 lalu, pilot-pilot dipandang tidak perlu mengambil kursus di simulator. Itu karena MAX memakai desain bodi 737 yang sudah dipakai sejak 1967.

Pilot-pilot yang akan menerbangkan B737 MAX hanya wajib mempelajari sistem pesawat itu lewat silabus yang diberikan lewat iPad, yang bisa dipelajari dalam satu jam saja.

Namun, materi yang diberikan di iPad itu tidak menyebut adanya fitur MCAS (Maneuvering Characterictics Augmented System), yang menjadi biang keladi kecelakaan Lion Air JT610 dan Ethiopian ET302.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Bloomberg
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X