Kisah Manay, Jadi Atlet E-sports Indonesia Bermodal Ponsel Retak

Kompas.com - 15/01/2020, 12:22 WIB
Muhammad Manay Farchan Ridha (tengah) pemegang juara pertama Turnamen Free Fire World Cup 2019. KOMPAS.com/ KEVIN RIZKY PRATAMAMuhammad Manay Farchan Ridha (tengah) pemegang juara pertama Turnamen Free Fire World Cup 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Peraih juara pertama Turnamen Free Fire World Cup 2019, Manay, turut hadir dalam acara pembukaan Turnamen Free Fire Master League (FFML) Season 1 pada Selasa (14/1/2020).

Manay dikenal sebagai atlet e-sports profesional dari tim EVOS. Ia juga telah meraih sejumlah penghargaan sebagai Juara Free Fire Indonesia Masters S1, Juara Dunia Free Fire World Cup 2019, Posisi Kedua Free Fire Summer League, dan Posisi Kedua Free Fire Asia Invitational.

Selama merintis karier di ranah e-sports, pria dengan nama asli Muhammad Farchan Ridha ini mengaku bahwa dulu dirinya tidak mendapat restu orang tua untuk masuk ke dunia e-sport.

"Tanggapan orang tua kalo dulu kan negatif ya, kalau di rumah kan orang tua mikirnya anak main game terus padahal kalau di e-sports lebih terstruktur", ungkap Manay.

Namun, Manay mengaku ia tetap berusaha agar orang tuanya mau memahami bahwa dunia e-sports adalah kegemarannya. Setelah berusaha menerangkan bahwa e-sports merupakan passion yang disenanginya, kini orang tua Manay akhirnya mengerti.

Baca juga: Garena Gelar Turnamen E-Sports Free Fire Master League di Indonesia

"Jadi sekarang pas saya terjun ke dunia e-sports saya jelaskan, jadi sudah mendukung. Saat memenangkan kejuaraan, yah, orang tua bangga. Sampai dijemput di bandara kemudian menangis," lanjut Manay.

Manay juga mengaku bahwa kariernya di dunia e-sports tidak diraih dengan cara yang instan. Ia memulai karier profesional tersebut dari bawah.

"Sebenarnya kalau dari pengalaman saya, saya membuat tim dari nol. Saya waktu itu merekrut anggota tim tanpa melihat dia hebat atau tidak. Yang penting punya tekad dulu," ungkap Manay saat ditemui KompasTekno, Selasa, (14/1/2020).

Manay juga mengaku dirinya tidak menggunakan smartphone dengan spesifikasi yang tinggi ketika mengawali karier di dunia e-sports. Bahkan ponsel miliknya pun sejatinya sudah tidak layak pakai dengan bagian layar yang sudah retak.

Baca juga: Ariel Noah Bentuk Tim E-sports The Pillars

Namun Ia mengatakan bahwa kondisi ponsel yang tidak mumpuni bukan jadi penghalang yang bisa menghentikan tekadnya untuk kemudian menjadi atlet e-sports profesonal.

"Tim saya dulu spesifikasi ponselnya kurang banget, handphone yang sudah retak. Waktu pertama turnamen, itu handphone-nya 'kram'. Bukan tangannya yang kram, tapi handphone-nya" ungkapnya sambil tertawa.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X