Qualcomm Khawatir Produksi Smartphone Terancam

Kompas.com - 10/02/2020, 12:13 WIB
Papan nama Qualcomm Inc. di gedung kantornya di La Jolla, California, AS. Konrad Fiedler/BloombergPapan nama Qualcomm Inc. di gedung kantornya di La Jolla, California, AS.
Penulis Bill Clinten
|

KOMPAS.com - Dampak virus corona di industri teknologi semakin terasa. Bahkan, pabrikan chip Qualcomm mengatakan bahwa dampak penyebaran virus tersebut bisa mengancam pasokan komponen yang dibuatnya.

Diketahui, Qualcomm merupakan salah satu pemasok terbesar untuk komponen System-on-Chip (SoC) dan chip modem yang disematkan di dalam smartphone.

Artinya, jika produksi di Qualcomm terganggu maka rantai pasokan komponen smartphone ke produsen kemungkinan juga bakal terhambat.

"Ada ketidakpastian yang signifikan terkait dampak virus Corona terhadap permintaan perangkat dan rantai pasokan (komponen)," ujar Executive Vice President dan Chief Financial Officer Qualcomm, Akash Palkhiwala, sebagaimana dikutip KompasTekno dari SCMP, Senin (10/2/2020).

Baca juga: Pasokan iPhone Diprediksi Menurun gara-gara Virus Corona

Lebih lanjut, Akash juga menyadari bahwa wabah virus corona kemungkinan bakal mempengaruhi harga saham Qualcomm (QCOM).

Walhasil, ia memperkirakan harga saham tersebut bakal berkisar di angka 0,80 sen hingga 0,95 sen dolar AS di Q2 mendatang, menurun dari taksiran harga terendah 0,85 sen dolar AS di Q1.

Harga saham QCOM sendiri sempat turun ke angka 86,40 sen dolar AS kurang lebih sehari setelah Akash melontarkan komentar terkait virus corona tadi.

Namun, pantauan KompasTekno, Senin siang, harga saham kembali naik berada di angka 87,42 sen dolar AS.

Baca juga: Wabah Corona Ganggu Produksi Layar Televisi dan Laptop

Agar wabah virus corona tidak begitu berdampak pada harga saham, pihak Qualcomm telah meyakinkan para investor bahwa produksi pabrikan chip ini sebenarnya tidak terpaku di wilayah China saja.

Terlebih, kekuatan pasar 5G sendiri ditaksir bakal sangat mencolok di tiga negara yang notabene berada di luar China, yakni Amerika Serikat, Korea, dan Jepang.

"Jika kami memiliki masalah, baik masalah rantai pasokan atau masalah permintaan di China, kami cenderung memiliki kemampuan untuk menjadikan daerah lain untuk membantu (mengatasi) masalah tersebut," tutur Chief Executive Officer Qualcomm, Steve Mollenkopf.

"Kami ingin memastikan bahwa kami mempertahankan kekuatan kami di berbagai penjuru pasar lain (bukan hanya China)," pungkasnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber SCMP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X