Orang Indonesia: Ada Diskon atau Tidak, Belanja Online Jalan Terus

Kompas.com - 20/02/2020, 08:50 WIB
Head of Marketing Facebook Indonesia, Hilda Kitti, saat dijumpai KompasTekno di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/2/2020). KOMPAS.com/Bill ClintenHead of Marketing Facebook Indonesia, Hilda Kitti, saat dijumpai KompasTekno di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak yang beranggapan bahwa motivasi seseorang untuk belanja online adalah karena ada diskon atau harga yang murah. Padahal, menurut riset terbaru yang dirilis Facebook dan firma konsultan Bain & Company, kenyataannya tidak seperti itu.

Berdasarkan studi berjudul "Riding the Digital Wave" yang mensurvei sekitar 12.965 responden dan 30 CEO dari beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tercatat kurang dari 10 persen konsumen digital Indonesia yang belanja online saat ada diskon.

"Hanya 9 persen dari konsumen digital Indonesia yang belanja online kalau ada sale atau ketika sedang ada diskon," ujar Head of Marketing Facebook Indonesia, Hilda Kitti, di acara Facebook yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/2/2020).

Baca juga: Orang Indonesia Doyan Bandingkan Produk di Situs Belanja Online

Sebaliknya, lebih dari 50 persen responden yang disurvei mengaku bahwa mereka belanja online tanpa melihat waktu dan menunggu momen diskon.

"Sebanyak 61 persen yang kita survei justru menyatakan mereka ingin tetap belanja online apa pun alasannya," imbuh Hilda.

Hilda juga mengungkapkan bahwa riset tersebut mengungkap ada nuansa yang berbeda terkait perilaku para online shoppers, jika dilihat dari asal kota mereka.

Ia membaginya menjadi dua wilayah, yakni Tier 1 yang berisi lima kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, dan Surabaya, serta Tier 2 yang berisi kota-kota selain kelima kota di Tier 1 tadi.

Di kota-kota besar, jenis konsumen digital terbanyak adalah mereka yang disebut evolved shoppers, yakni 25 persen dari total responden di Tier 1. Sementara jenis konsumen kedua adalah value hunters, yakni 24 persen dari responden di Tier 1.

Hilda tidak menyebut berapa persentase jenis konsumen digital di Tier 2, namun ia mengungkap bahwa kota-kota "sekunder" ini didominasi oleh konsumen digital jenis recent adopters, value hunters, dan Gen Z.

Baca juga: Google Rekam Riwayat Belanja Online Pengguna Gmail

Sebagai informasi, survei tersebut membagi jenis konsumen digital menjadi enam, yakni evolved shoppers, lifestyle shopper, purposeful shoppers, value hunters, recent adopters, dan Gen Z.

Evolved shoppers adalah konsumen yang doyan belanja online dan mereka yang mengunggulkan kenyamanan dalam berbelanja, sementara lifestyle shopper adalah konsumen yang gemar membeli barang-barang tertentu saja.

Kemudian, purposeful shoppers adalah konsumen yang membeli barang secara online karena kebutuhan, sementara value hunters adalah jenis konsumen yang kerap membanding-bandingkan produk untuk mencari barang yang paling worth untuk dibeli.

Terakhir, ada recent adopters atau mereka yang baru berkecimpung di dunia belanja online dalam dua tahun terakhir, lalu ada Gen Z yang berisi para kawula muda yang baru menjajal belanja online di beberapa kategori saja.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X