Baterai Smartphone di Eropa Akan Lebih Mudah Dilepas

Kompas.com - 04/03/2020, 14:46 WIB
Baterai Li-Po Redmi 2 Prime berkapasitas 2.200 mAh dan dilapis stiker berwarna jingga seperti baterai-baterai smartphone lainnya dari Xiaomi. Oik Yusuf/ Kompas.comBaterai Li-Po Redmi 2 Prime berkapasitas 2.200 mAh dan dilapis stiker berwarna jingga seperti baterai-baterai smartphone lainnya dari Xiaomi.

KOMPAS.com - Pemanasan global dan isu lingkungan kini menjadi permasalahan yang sangat serius. Perubahan iklim yang ekstrim juga disebabkan oleh semakin banyaknya emisi gas karbon dari limbah elektronik.

Oleh karena itulah, Uni Eropa (UE) akan mendorong para vendor pembuat smartphone, tablet, dan earphone nirkabel untuk menggunakan baterai yang mudah diganti untuk setiap produk mereka. 

Menurut laporan media asal Belanda, Het Financieele Dagblad, rencana kebijakan ini tengah disusun oleh badan eksekutif Uni Eropa.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa para pejabat UE berencana untuk mengajukan proposalnya secara resmi untuk didiskusikan bersama publik pada bulan depan.

Kebijakan ini muncul karena pihak Uni Eropa menganggap bahwa smartphone dengan baterai yang mudah dilepas, dapat menekan jumlah limbah elektronik.

Sebab, saat ini mayoritas ponsel yang diproduksi oleh para vendor, memiliki baterai yang sulit untuk diganti jika mengalami kerusakan. 

Baca juga: Apple Bikin Robot Penambang Logam Mineral dari Limbah iPhone

Jika rusak, pemilik ponsel harus membawa perangkat ke gerai resmi untuk pergantian. Tak sedikit dari mereka yang justru memilih untuk membeli ponsel baru ketimbang mengganti baterai. 

Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan para pengguna tak harus membeli ponsel baru ketika komponen baterai pada ponsel yang mereka miliki bermasalah. 

Dengan demikian, jumlah limbah elektronik diharapkan dapat berkurang dengan siginifikan. Pasalnya, pihak Uni Eropa memperkirakan bahwa dunia teknologi menyumbang emisi karbon yang besar.

Dirangkum KompasTekno dari Business Insider, Rabu (4/3/2020), pada tahun 2016 saja Uni Eropa mencatat total limbah elektronik yang dihasilkan adalah 12,3 juta metrik ton, atau rata-rata 16,6 kg tiap penduduk.

Baca juga: Ada Komponen Berbahan Limbah di iPhone XS, XS Max, dan XR

Tak hanya itu, UE beberapa waktu lalu juga menginisasi untuk membuat standar pengisi daya telepon yang bisa digunakan untuk semua merek dan tipe perangkat. Namun tak sedikit vendor yang menolak. 

Salah satunya adalah vendor Apple yang menolak gagasan ini pada bulan Januari lalu. Raksasa teknologi itu berargumen bahwa regulasi itu akan menghambat inovasi dan akan menghasilkan limbah sendiri.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X