Twitter Hapus 1.100 Kicauan Hoaks Terkait Covid-19

Kompas.com - 02/04/2020, 13:05 WIB
Ilustrasi Aplikasi Twitter di ponsel di depan logo Twitter BloombergIlustrasi Aplikasi Twitter di ponsel di depan logo Twitter

KOMPAS.com - Informasi yang menyesatkan tentang tentang Covid-19 atau corona, marak beredar di dunia maya. Informasi tersebut masih banyak dijumpai di sejumlah media sosial, salah satunya Twitter.

Melihat situasi ini, Twitter pun tak tinggal diam. Sejak 18 Maret lalu Twitter mencatat telah menghapus lebih dari 1.100 kicauan yang mengandung hoaks terkait virus corona.

Jumlah tersebut terhitung sejak Twitter memberlakukan kebijakan konten baru pada 18 Maret 2020. Dalam kebijakan tersebut, Twitter menyatakan akan menghapus kicauan berisi informasi menyesatkan terkait Covid-19. 

Dalam kebijakan itu, Twitter melarang kicauan yang bertentangan dengan rekomendasi dari otoritas kesehatan lokal dan global. 

 

Selain itu, Twitter juga menindak tegas akun-akun yang menyebarkan spam serta bertindak manipulatif dalam membuat percakapan yang terjadi di dalam platform

Baca juga: Twitter Bikin Halaman Khusus Covid-19

"Sistem kami juga menindak tegas 1,5 juta akun yang melakukan manipulasi terhadai diskusi terkait Covid-19 yang terjadi," tulis pihak Twitter.

Kendati demikian, Twitter tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai informasi menyesatkan seperti apa saja yang dihapus dari platform-nya 

Kebijakan itu pun membuat Twitter tak pandang bulu untuk menghapus kicauan yang menyesatkan. Bahkan, kicauan dari petinggi pemerintah sekelas presiden pun turut dihapus jika mengandung informasi menyesatkan. 

Pekan lalu, Twitter menghapus dua kicauan dari akun presiden Brasil, Jair Bolsonaro. Salah satu di antaranya berisi sebuah video yang mempertanyakan anjuran social distancing.

Ada pula kicauan dari Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang sempat merekomendasikan minuman herbal untuk menyembuhkan corona. Kicauan itu pun dihapus oleh pihak Twitter. 

Twitter juga menghapus kicauan dari Rudy Giuliani, pengacara pribadi Donald Trump. Ia pernah mengunggah tweet yang mengklaim bahwa zat hydroxychloroquine dapat 100 persen mengobati Covid-19.

Baca juga: Twitter Perbanyak Verifikasi Biru untuk Akun Milik Ahli Kesehatan

Dihimpun KompasTekno dari CNet, Kamis (2/4/2020) zat tersebut ternyata masih belum teruji secara klinis sehingga ditandai sebagai informasi yang menyesatkan.  

Beberapa waktu lalu, Twitter memang memperketat kebijakan kontennya terkait persebaran informasi Covid-19. 

Twitter akan menghapus kicauan yang menganjurkan obat atau tindakan pencegahan yang keliru, seperti minum cairan pemutih pakaian.

Kicauan yang berisi informasi atau klaim keliru yang dibuat agar seolah-olah berasal dari ahli atau otoritas pemerintah juga dilarang.



Sumber CNET
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X