Jokowi Ingin Lacak Pasien Corona dengan GPS, Bagaimana Privasinya?

Kompas.com - 05/06/2020, 16:02 WIB
Presiden Joko Widodo mengenakan masker saat memimpin upacara pelantikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5/2020). Presiden secara resmi melantik Irjen Pol Boy Rafli Amar sebagai Kepala BNPT menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius. ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAYPresiden Joko Widodo mengenakan masker saat memimpin upacara pelantikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5/2020). Presiden secara resmi melantik Irjen Pol Boy Rafli Amar sebagai Kepala BNPT menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius.

Selain itu, GPS juga akan memberi tahu pengguna lokasi yang pernah dikunjungi pasien positif Covid-19, 100 meter sebelum sampai di lokasi tersebut. Namun, aplikasi ini memuat beberapa informasi pribadi, seperti kewarganegaraan, gender, dan usia.

Ada pula aplikasi serupa bernama Coronamap. Dengan aplikasi ini pengguna bisa melihat sekilas melalui peta, di mana pasien menjalani karantina. Ada juga informasi tanggal kasus terkonfirmasi dan rumah sakit mana saja yang dikunjungi pasien positif.

Aplikasi Digital Diary di Selandia Baru

Selandia Baru membuat terobosan agak berbeda dengan Korea Selatan. Alih-alih membuat aplikasi pelacak Covid-19 saat kasus memuncak, negara ini malah baru membuat aplikasi berbasis GPS saat kasus melandai.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyebut aplikasi pelacak tersebut sebagai "digital diary". Aplikasi itu mencatat perjalanan pribadi penggunanya sambil memastikan data yang tersimpan aman.

"Sambil berjaga-jaga jika pada kemudian hari Anda terjangkit Covid-19, Anda punya referensi untuk menceritakan ke mana saja Anda pergi dalam periode tertentu," kata Ardern, seperti dikutip Antara dari dari Reuters (18/5/2020).

Melansir Newsroom, aplikasi ini akan membantu pengguna ketika mereka keluar dari tempat keramaian, seperti restoran atau kafe, sambil menyimpan data pergerakan mereka. Ardern mengatakan data pengguna tidak akan dibagikan ke pihak manapun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Begini Cara Kerja Sistem Pelacak Virus Corona Buatan Apple dan Google

"Itu untuk Anda, itu perangkat Anda, dan itu data serta informasi Anda," kata Ardern.

Berbeda dengan Indonesia atau Korea Selatan, Selandia Baru sempat menerapkan lockdown atau karantina wilayah selama hampir lima pekan. Namun saat ini, Selandia Baru telah melonggarkan pembatasan sosial sejak tidak ada kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi.

Indonesia punya "PeduliLindungi"

Akan tetapi, GPS bukan satu-satunya teknologi yang digunakan untuk melacak pergerakan warga demi membendung penularan Covid-19. Sebagian negara lebih memilih menggunakan aplikasi berbasis bluetooth.

Salah satunya Indonesia yang sudah memiliki aplikasi bernama PeduliLindungi. Aplikasi ini kurang lebih sama dengan yang dikembangkan pemerintah Singapura, bernama TraceTogether.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.