Jokowi Ingin Lacak Pasien Corona dengan GPS, Bagaimana Privasinya?

Kompas.com - 05/06/2020, 16:02 WIB

PeduliLindungi akan mengumpulkan data yang diperlukan dari ponsel pengguna sambil mengaktifkan koneksi bluetooth.

Baca juga: Kominfo Ganti Nama Aplikasi Pelacak Pasien Covid-19 di Indonesia

Ketika ada ponsel lain dalam jangkauan bluetooth yang juga terdaftar dalam aplikasi PeduliLindungi, akan ada pertukaran informasi yang direkam oleh masing-masing perangkat.

Lalu, aplikasi akan mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat, dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19 atau berstatus PDP dan ODP.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate mengatakan data pengguna aplikasi PeduliLindungi aman. Seluruh data akan dihapus apabila pandemi Covid-19 berakhir.

"Telah menugaskan dan mewajibkan semua pihak yang mengelola aplikasi ini untuk melakukan pembersihan seluruh data nanti pada saat keadaan darurat kesehatan berakhir," jelas Johnny dalam sebuah konferensi pers di Graha BNPB, Sabtu (18/4/2020).

GPS berpotensi langgar privasi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

GPS tidak menjadi pilihan beberapa negara untuk melacak pergerakan pasien Covid-19, karena warganya khawatir jika data mereka disimpan pemerintah dan bisa disalahgunakan. Apalagi, jika informasi tentang kesehatan bocor, bisa merugikan individu.

Bahkan Google dan Apple yang bekerja sama membuat API khusus untuk aplikasi pelacak corona, melarang penggunaan GPS apabila pemerintah mengembangkan aplikasi menggunakan sistem mereka.

Baca juga: Apple dan Google Larang Penggunaan Data GPS di Aplikasi Lacak Corona

Sistem buatan Google dan Apple hanya menggunakan sinyal bluetooth untuk mendeteksi kontak, tidak menggunakan atau menyimpan data lokasi GPS. Selain karena alasan privasi, GPS dinilai menghabiskan banyak data jika terus menerus diaktifkan.

Kini, tools untuk melacak penyebaran virus tersebut kabarnya sudah disebar ke berbagai lembaga kesehatan dunia, sehingga lembaga-lembaga tersebut bisa mengembangkan aplikasi pelacak Covid-19, baik di platform Android maupun iOS.

Setiap negara hanya diperbolehkan membuat satu aplikasi pelacak berbasis sistem Google dan Apple. Tujuannya adalah untuk meminimalisir fragmentasi dan agar bisa diadopsi lebih luas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.