Kompas.com - 15/06/2020, 13:02 WIB
Penulis Bill Clinten
|

KOMPAS.com - Raksasa jejaring sosial Facebook dikabarkan memecat seorang karyawannya karena telah mengkritik kebijakan Mark Zuckerberg atas unggahan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump, beberapa waktu lalu.

Ialah Brandon Dail, seorang teknisi user interface (UI) yang dipecat gara-gara memarahi seorang rekan kerjanya di depan publik lewat Twitter.

Ia murka lantaran kerabatnya itu menolak untuk memasukkan sebuah pernyataan bernada dukungan terhadap kampanye Black Lives Matter ke dalam dokumen-dokumen yang ia terbitkan.

Sebagaimana diketahui, Black Lives Matter merupakan gerakan yang menuntut kesetaraan ras di AS yang dipicu oleh kasus kematian yang menimpa pria keturunan Afrika-Amerika, George Floyd, beberapa minggu lalu.

Baca juga: Hacker Murka Pasca Kematian George Floyd

"Saya dipecat karena mengkritik seorang karyawan yang bungkam (terkait kebijakan Facebook) secara publik di Twitter. Saya memegang teguh perkataan saya," ujar Dail melalui kicauannya di Twitter.

"Facebook bahkan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengundurkan diri," tambahnya.

Pihak Facebook sendiri membenarkan kabar pemecatan Dail tersebut, tetapi menolak untuk berkomentar lebih lanjut.

Berawal dari unggahan Trump

Sebagai informasi, masalah ini bermula dari sebuah kalimat yang diunggah Trump di sejumlah sosial media beberapa waktu lalu.

Kalimat yang berbunyi "ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai" itu dianggap provokatif dan mengglorifikasi kekerasan.

Twitter menandai unggahan tersebut sebagai unggahan yang bisa memicu kekerasan. Di sisi lain, Facebook sendiri tidak melakukan tindakan tertentu dan terkesan membiarkannya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BusinessInsider, Senin (15/6/2020).

Langkah atau kebijakan yang diambil Facebook ini sontak menuai sejumlah kritik dari berbagai pihak, termasuk Dail dan sejumlah pegawai Facebook lainnya.

Dail sendiri baru-baru ini kembali melontarkan kritikan terhadap Facebook yang membiarkan unggahan Trump lain terkait teori konspirasi. 

Baca juga: Dukungan Google, Twitter, Instagram dkk atas Aksi Protes Kematian George Floyd

Unggahan tersebut menyeret nama seorang demonstran berumur 75 tahun, Martin Gugino.

Diketahui, Gugino sendiri sempat didorong oleh aparat kepolisian ketika ia melancarkan aksi protes di kota Buffalo, negara bagian New York, Amerika Serikat. Setelah "diserang" oleh polisi, ia sontak terjatuh dan terkapar tak berdaya.

Lewat sebuah unggahan, Trump lantas berspekulasi bahwa hal yang dilakukan oleh Gugino tadi merupakan sebuah sandiwara lantaran dianggap tidak realistis.

"Unggahan Trump terhadap Martin Gugino adalah perbuatan tercela dan jelas melanggar peraturan Facebook. Saya sangat kecewa bahwa Facebook dan Twitter belum menghapusnya," kata Dail.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.