Pemerintah Percepat Digitalisasi Televisi, Cegah Kesenjangan Antarnegara

Kompas.com - 06/07/2020, 16:11 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, dalam konferensi pers online, Senin (6/7/2020). KOMPAS.com/Bill ClintenMenteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, dalam konferensi pers online, Senin (6/7/2020).

KOMPAS.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tengah berupaya untuk mempercepat digitalisasi nasional, terutama di sektor penyiaran digital lewat kebijakan migrasi TV analog ke digital (analog switch off/ASO).

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, dalam konferensi pers online yang disiarkan secara langsung di YouTube KemkominfoTV, Senin (6/7/2020).

Menurut Johnny, ada sejumlah alasan mengapa digitalisasi televisi ini harus diakselerasi. Alasan pertama adalah ketertinggalan Indonesia terkait penerapan ASO itu sendiri, khususnya dengan negara-negara tertangga.

Baca juga: Migrasi TV Analog ke Digital Bisa Hemat Bandwidth 112 MHz

Thailand dan Vietnam, misalnya, mulai merampungkan program ASO di tahun 2020 ini. Bahkan, Malaysia dan Singapura sudah menyelesaikan ASO pada 2019.

Kesenjangan program ASO ini, menurut Johnny, lantas berpotensi bakal menimbulkan potensi permasalahan diplomatis antarnegara.

"Apabila Indonesia terlalu lama menyelesaikan isu ASO ini, maka akan muncul potensi permasalahan dengan negara tetangga, khususnya di wilayah perbatasan," ujar Johnny.

"Situasi ini berpotensi memunculkan sengketa internasional, sehingga harus dilakukan penataan spektrum frekuensi radio yang diharmonisasi dengan negara tetangga," imbuh Johnny.

Selain mencegah masalah diplomatik, akselerasi ASO juga diperlukan guna memberikan layanan televisi yang baik bagi masyarakat, selaras dengan kemajuan teknologi, berikut menjaga keberlangsungan para investor di industri penyiaran.

Meningkatkan kualitas internet broadband

Johnny melanjutkan, penyelesaian program ASO sendiri mesti dilakukan demi meningkatkan kualitas layanan internet broadband di Tanah Air.

Sebab, frekuensi 700 MHz (frekuensi yang masih dipakai untuk penyiran televisi analog) sendiri memang ideal untuk layanan akses internet broadband.

Baca juga: Menkominfo Minta Tambahan Anggaran untuk Percepat Digitalisasi Nasional

"Dengan migrasi teknologi digital (ASO), maka dari 328 MHz yang saat ini seluruhnya digunakan untuk penyiaran televisi teknologi analog, akan dihasilkan penggunaan efisiensi spektrum untuk menambah kapasitas jangkauan dan kualitas internet broadband," jelas Johnny.

Adapun efisiensi spektrum yang dimaksud Johnny disebut dengan istilah digital dividend, dengan angka penghematan spektrum frekuensi sekitar 112 MHz, yang bisa dipakai untuk peningkatan kualitas internet tadi.

Johnny pun mengimbau seluruh pihak terkait agar berjalan seirama dengan pemerintah untuk mempercepat digitalisasi televisi atau ASO ini. 

"Pihak-pihak yang tidak sejalan atau berlawanan arah dengan kebijakan (ASO) ini sama dengan tidak mengikuti atau menghambat misi besar pemerintah, bersama-sama ekosistem, untuk percepatan transformasi digital Indonesia," pungkas Johnny.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X