Trafik YouTuber Indonesia Turun akibat Pandemi atau Algoritma?

Kompas.com - 28/07/2020, 16:04 WIB
Ilustrasi Youtube. CnetIlustrasi Youtube.

KOMPAS.com - Sejumlah YouTuber di Indonesia mengakui mengalami penurunan trafik dan pendapatan. Hampir sebagian besar merasa penurunan dimulai sejak awal 2020, bersamaan dengan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Namun benarkah penurunan ini diakibatkan oleh pandemi Covid-19, atau perubahan algoritma YouTube

Untuk diketahui, laporan The New York Times menyebut bahwa YouTube justru mengalami kenaikan jumlah penonton sebesar 15 persen pada periode Januari-April 2020.

Dari adsense hingga viewer

KompasTekno mengonfirmasi ke sejumlah YouTuber di Indonesia, seperti YouTuber yang gemar mengulik segala hal yang berhubungan dengan dunia otomotif, Fitra Eri.

Baca juga: Blackpink Pecahkan Rekor di YouTube

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepada KompasTekno, Fitra mengaku bahwa di masa pandemi ini, pendapatan dari adsense di kanal YouTube-nya cenderung menurun meski jumlah trafik viewer meningkat.

Hal itu menurut Fitra kemungkinan karena jumlah pengiklan ke YouTube berkurang.

"Turunnya per 1.000 views di saya sekitar 40 persen. Tapi karena traffic meningkat jadinya jumlah adsense mirip saja dengan sebelumnya," lanjut Fitra.

Adsense sendiri merupakan program kerja sama periklanan yang dikelola Google. Setelah akun Google tertaut dengan adsense, setiap video yang ditonton minimal 30 detik akan terhitung dan dikonversikan ke adsense.

Sedangkan CPM (cost per mille) adalah bayaran yang diberikan ke YouTuber tiap kelipatan 1.000 view pada video mereka. Ini menjadi salah satu faktor penting dalam memonetisasi iklan di YouTube.

Senada dengan Fitra, YouTuber yang menggawangi kanal Sobat Hape, Irwan Kusuma juga merasakan hal yang sama. Irwan menduga bahwa penurunan CPM merupakan dampak dari perubahan algoritma YouTube saat ini.

"Turun kayaknya. Emang sekarang lagi rame nih soal algoritma YouTube, konten kreator yang beneran kalah sama artis," ujar Irwan.

Sementara, YouTuber sekaligus reviewer Wira Nurmansyah cenderung mengalami penurunan dari segi CPM maupun jumlah penonton (views) semenjak Covid. Ia mengaku penurunan bisa 30 hingga 50 persen dalam satu hari.

YouTuber Kumar dari kanal K2 Gadgets menuturkan ada penurunan CPM, karena banyak perusahaan yang menahan diri beriklan di YouTube secara masif, sehingga jumlah pihak yang bersaing untuk spot iklan menurun, dan berimbas ke rendahnya CPM.

"Walaupun begitu untuk jumlah viewers justru dalam dua bulan terakhir, K2 Gadgets mengalami kenaikan average viewership kalau dibandingkan dengan awal tahun," lanjut Kumar.

Baca juga: Marak Jual Beli Akun Netflix, Spotify, dan YouTube Premium di Indonesia, Legalkah?

Selain itu, salah satu tech vlogger sekaligus reviewer gadget yang tak ingin disebutkan namanya, juga mengatakan bahwa kanalnya turut mengalami penurunan views dan persentase angkanya di luar ekspetasi.

"Gak mutlak sih, tapi memang ada bedanya. Berapa persennya sih gak bisa ditakar, cuma ya keliatan aja angkanya gak sesuai ekspektasi," ungkap tech vlogger itu.

Akibat pandemi Covid-19 atau algoritma?

Konsultan Media Sosial dan Kreator Konten Youtube, Eno Bening mengatakan bahwa masa pandemi turut mempengaruhi minat penonton terhadap konten tertentu, dan berdampak pada trending YouTube saat ini.

"Jadi karena pandemi, mungkin yang lagi dibahas di video tersebut adalah tentang pandemi, bisa saja dia menjadi yang lebih trending dibandingkan dengan video-video lainnya yang joget-joget atau TikTok atau vlog-vlog artis biasanya," tutur Eno.

Menurut Eno, ketika ada konten yang berkaitan dengan pandemi, maka konten tersebut lebih cepat trending, karena pada masa itu, masyarakat sedang mencari segala sesuatu tentang pandemi covid-19 dan lain-lain.

"Makin besar juga kemungkinan video tersebut masuk trending atau nggak, jadi apa pun itu pasti akan memengaruhi trending," pungkas Eno.

Namun selain pandemi Covid-19, penurunan trafik dan pendapatan YouTuber diduga disebabkan oleh perubahan algoritma yang dibuat oleh YouTube.

Ivy Choi, perwakilan YouTube mengatakan bahwa perusahaannya memang mengotak-atik algoritma.

"Kami membuat ratusan perubahan setiap tahunnya, untuk memudahkan orang menemukan apa yang mereka cari di YouTube," kata Choi.

Baca juga: Pahami Algoritma YouTube, Kunci Jadi YouTuber Sukses

"Baru-baru ini kami baru saja membuat satu perubahan utnuk meningkatkan konten keluarga yang lebih berkualitas," imbuh Choi, seperti dikutip dari Bloomberg.

Dalam laman pendukung Google, YouTube memang memberikan pembaruan (update) pada Januari 2020 lalu.

Namun dalam pembaruan itu, YouTube menegaskan bahwa "tidak ada perubahan kebijakan atau penegakan kebijakan".

Juru bicara YouTube Indonesia ketika dikonfirmasi tentang perubahan algoritma ini, mengatakan bahwa perubahan yang dilakukan YouTube hanya soal kebijakan removal video, bukan mengubah algoritma.

Seperti tertulis di dalam blog-nya, kebijakan removal video (penghapusan video dari YouTube) kini lebih banyak mengandalkan mesin alih-alih manusia, karena dinilai lebih cepat dalam menangani video sensitif.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X