Pendapatan Zoom Meroket, Tembus Rp 9 Triliun

Kompas.com - 01/09/2020, 19:23 WIB
Aplikasi Zoom forbes.comAplikasi Zoom

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di banyak negara berdampak pada pendapatan Zoom yang terus menanjak karena aktivitas bekerja dan belajar dari rumah.

Dalam laporan keuangan kuartal kedua yang berakhir 31 Juli 2020, Zoom meraup pendapatan 663,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,6 triliun (dengan kurs rupiah saat berita ini ditulis). Pendapatan ini naik signifikan sebesar 355 persen secara year over year (YoY).

Hasil ini membuat Zoom meningkatkan proyeksi pendapatan pada tahun fiskal 2021 dari 2,37 miliar dollar AS ke 2,39 miliar dollar AS (sekitar Rp 34,7 triliun ke Rp 35 triliun) atau dari 281 persen ke 284 persen secara YoY.

Baca juga: Cara Menghemat Kuota Internet saat Menggunakan Zoom

"Organisasi-organisasi beralih dari kebutuhan untuk keseinambungan bisnis mereka, menjadi kebutuhan menunjang aktivitas kerja dan belajar di mana saja, serta terkoneksi di mana pun dengan platform Zoom," ujar CEO Zoom Eric S Yuan dalam laporan perusahaan.

Platform telekonferensi ini sekarang memiliki 370.200 pengguna dengan lebih dari 10 karyawan pada kuartal II-2020. Jumlah itu naik hampir 458 persen dari kuartal yang sama di tahun fiskal sebelumnya.

Dirangkum dari The Verge, Selasa (1/8/2020), CFO Zoom, Kelly Steckelberg mengatakan bahwa layanan berlangganan dari pengguna baru menyumbang 81 persen dari pertumbuhan pendapatan kuartal kedua.

Baca juga: Cara Menjadwalkan Rapat di Zoom Meetings via PC dan Smartphone

Sebelumnya, pada kuartal I-2020 yang berakhir pada 30 April 2020, pendapatan Zoom juga meningkat signifikan. Pada periode tersebut, Zoom meraup pendapatan 328,2 juta dollar AS (sekitar Rp 4,8 triliun dengan kurs saat berita ini ditulis), naik 169 persen dari tahun ke tahun.

Jumlah penggunanya saat itu mencapai 265.400 dengan lebih dari 10 karyawan, atau naik 354 persen dari tahun ke tahun.

Terlepas dari pendapatan secara bisnis, Zoom sempat dihujani kriti di masa awal pandemi atau saat mulai banyak orang menggunakan Zoom untuk bekerja dan belajar dari rumah.

Kritik ditujukan pada sistem keamanan Zoom yang dinilai rentan akan penyusupan hingga mencipatkan istilah baru yakni zoombombing.

Baca juga: Kisah Eric Yuan yang Mendirikan Zoom Setelah Idenya Ditentang Cisco

Istilah itu mengacu pada kejadian saat penyusup atau peserta tak diundang menyelinap ke ruang Zoom lalu menampilkan video, foto, atau pembiacaraan yang jauh di luar konteks.

Misalnya seperti membagikan video porno, kekerasan, atau menyebarkan ujaran kebencian. Zoom telah berbenah dan memperbaiki celah keamanan.

Bulan Juni lalu, Zoom merilis sistem keamanan end-to-end encryption untuk pengguna beta, baik berbayar maupun gratisan pada bulan Juli. Belum diketahui kapan fitur ini diimplementasikan untuk pengguna publik.



Sumber The Verge
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X