Smartwatch Bisa Cek Oksigen Darah untuk Deteksi "Happy Hipoxia", Akuratkah?

Kompas.com - 07/09/2020, 12:47 WIB
Ilustrasi saturasi oksigen ShutterstockIlustrasi saturasi oksigen

Walter Schrading, direktur kantor kedokteran Universitas Alabama di Sekolah Kesehatan Birmingham, mengatakan bahwa mengandalkan aplikasi untuk mengecek level oksigen dalam darah secara mandiri bisa berakibat fatal.

Baca juga: Apple Patenkan Pendeteksi Gula Darah di Arloji Pintar

Menurutnya, meskipun aplikasi tersebut bisa melakukan pemeriksaan oksimetri, tapi hasilnya tidak akurat, terutama jika kadar oksigen dalam darah sudah sangat rendah. Orang yang sebenarnya memiliki kadar oksigen rendah, bisa saja disebut "normal" oleh aplikasi.

"Mereka (aplikasi pemeriksaan oksimetri) tidak bekerja dengan baik ketika Anda benar-benar membutuhkannya untuk melakukan pemeriksaan, saat kadar oksigen Anda sudah sangat rendah," jelas Schrading.

Padahal, apabila kadar oksigen sudah sangat rendah, potensi kerusakan organ tubuh semakin besar. Dirangkum KompasTekno dari The Verge, Senin (7/9/2020), Schrading dan koleganya pernah mengevaluasi kinerja tiga aplikasi oksimeter pada tahun 2019.

Hasilnya, aplikasi-aplikasi itu tidak cukup meyakinkan untuk mengidentifikasi orang yang tidak memiliki cukup oksigen.

Hasil riset yang dilakukan Schrading senada dengan penelitian serupa berjudul "Comparison of smartphone application-based vital sign monitors without external hardware versus those used in clinical practice: a prospective trial" yang dipublikasikan Springer pada 2016.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa "tingkat korelasi antara pemeriksaan rutin dalam praktik klinis dan aplikasi berbasis smartphone yang diteliti, tidak cukup untuk merekomendasikan pemanfaatan klinis".

Disebutkan pula bahwa data yang tidak akurat yang diberikan aplikasi berpotensi membahayakan pasien. Penelitan terbaru yang diterbitkan oleh Center for Evidence-Based Medicine Universitas Oxford juga memberikan hasil yang sama.

Dalam penelitian itu juga disebutkan beberapa alasan mengapa aplikasi pemeriksaan oksimetri di gadget sebaiknya tidak dijadikan acuan utama. Pertama, kumpulan data atau dataset yang diujikan tidak menyertakan berbagai macam jenis kulit.

Baca juga: Arloji Pintar Galaxy Watch 3 Bisa Deteksi Kadar Oksigen Dalam Darah

Kedua, dataset yang diuji mencakup kisaran saturasi oksigen yang terbatas. Sebagian besar berada pada kisaran normal, yakni 95-100 persen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X