Mantan Pegawai Tuding Facebook Mengambil Untung dari Kebencian

Kompas.com - 10/09/2020, 12:15 WIB
CEO Facebook, Mark Zuckerberg meminum air di sela-sela sidang dengar pendapat di Komite Jasa Keuangan pada bulan Oktober 2019. MANDEL NGANCEO Facebook, Mark Zuckerberg meminum air di sela-sela sidang dengar pendapat di Komite Jasa Keuangan pada bulan Oktober 2019.

KOMPAS.com - Seorang engineer perangkat lunak di Facebook, Ashok Chandwaney, pekan ini mengundurkan diri dari perusahaan media sosial tersebut. Dia menilai bahwa Facebook telah gagal menangani misinformasi yang beredar di jejaringnya.

Menurut Chandwaney, alih-alih memperlakukan konten berbau kebencian sebagai masalah substantif yang perlu ditangani, Facebook malah memandangnya sekadar problem public relation terhadap citra perusahaan.

"Saya berhenti karena sudah tidak tahan berkontribusi buat organisasi yang mengambil untung dari kebencian di AS dan secara global," tulis Chandwaney di dalam sebuah surat terbuka di Facebook yang menjelaskan alasannya mengundurkan diri.

Baca juga: Facebook Uji Coba Gabungkan FB dan Instagram Stories

Dia mencontohkan kejadian penembakan di Kenosha, Wisconsin, AS. Facebook tidak menghapus laman sebuah grup milisi yang mengajak warga untuk membawa senjata api ke  demonstrasi di jalanan. Padahal, sebelumnya sudah ada sejumlah komplain tentang laman itu.

Setelah dua orang tewas tertembak, barulah CEO Facebook Mark Zuckerberg mengakui bahwa pihaknya telah melakukan "kesalahan operasional" dengan tidak menghapus laman dimaksud. Zuckerberg pun dihujani kritik oleh para pegawainya sendiri.

Chandwaney juga menyebutkan bahwa Facebook pada Mei lalu tak mau menghapus posting dari Presiden AS Donald Trump yang berkata "Saat penjarahan dimulai, penembakan pun akan dimulai," terkait kerusuhan menyusul tewasnya pria kulit hitam George Floyd.

Baca juga: Twitch, Facebook Live, Instagram Live, dan YouTube Live Terancam Dilarang di Indonesia

Menurut Chandwaney, Facebook tidak menunjukkan tanda-tanda akan menanggapi masalah di media sosialnya secara serius. Maka, dia merasa bahwa satu-satunya cara untuk mendorong perubahan adalah dengan berbicara secara publik.

Chandwaney bukan pegawai Facebook pertama yang menyuarakan protes terbuka. Pada Juni lalu, beberapa karyawan Facebook juga protes terhadap perusahaan yang mendiamkan posting Presiden Trump yang dianggap mengglorifikasi kekerasan.

Baca juga: Protes Karyawan Facebook ke Zuckerberg, dari Bilang Pengecut hingga Mengundurkan Diri

Di sisi lain, juru bicara Facebook Liz Bourgeois membantah tudingan bahwa perusahaan itu "mengambil untung dari kebencian", sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Washington Post, Kamis (10/9/2020).

Bourgeois mengatakan, Facebook membelanjakan dana miliaran dollar AS tiap tahun untuk menjaga keamanan komunitasnya, sekaligus bekerja sama dengan para ahli untuk meninjau dan memperbarui kebijakan perusahaan.

"Kami mengeluarkan kebijakan mengejar QAnon (grup teori konspirasi), mengembangkan program pemeriksaan fakta, dan menghapus jutaan posting terkait organisasi kebencian -96 persennya ditemukan oleh kami sebelum dilaporkan pengguna," ujarnya mencontohkan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X